Mobil Listrik Masuk Babak Baru, Produksi Sel Baterai Jadi Kunci Kejar TKDN 60 Persen pada 2027

Sabtu 31-01-2026,15:31 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda empat di Indonesia tengah bersiap memasuki fase krusial.

Mulai 2027, seluruh produsen mobil listrik yang ingin menikmati insentif pemerintah diwajibkan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 60 persen.

Salah satu kunci utama untuk mengejar target tersebut adalah produksi sel baterai di dalam negeri.

Ketentuan TKDN ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2023 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Dalam regulasi tersebut, pemerintah telah menetapkan target TKDN secara bertahap.

Pada periode 2022–2026, ambang batas TKDN ditetapkan sebesar 40 persen. Target tersebut akan naik menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan meningkat signifikan menjadi minimum 80 persen mulai 2030 dan seterusnya.

Ketua Tim Kerja KBLBB Kementerian Perindustrian, Patia Junjungan Monangdo, menegaskan bahwa komponen baterai menjadi isu paling krusial dalam upaya mengejar target TKDN selanjutnya.

“Yang menjadi topik krusialnya juga adalah baterai,” ujar Patia di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

BACA JUGA:Kenapa Mobil Rawan Kena Overheat Saat Perjalanan Jauh? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Saat ini, produsen mobil listrik masih bisa memenuhi target TKDN 40 persen melalui skema completely knocked down (CKD) atau perakitan kendaraan di dalam negeri dengan komponen impor. Namun, skema tersebut dinilai tidak lagi cukup untuk mengejar target TKDN 60 persen pada 2027.

Produksi Sel Baterai Bisa Dongkrak TKDN Hingga 50 Persen

Patia menjelaskan, produksi baterai di dalam negeri memiliki kontribusi besar terhadap nilai TKDN. Bahkan, produksi baterai secara menyeluruh dapat menyumbang hingga 50 persen dari total TKDN kendaraan listrik.

Menurutnya, terdapat tahapan kontribusi TKDN dari sektor baterai, mulai dari proses paling sederhana hingga paling kompleks.

“TKDN bisa naik 10 persen jika perusahaan menggunakan baterai yang dikemas di Indonesia,” jelas Patia.

Jika produksi diperluas ke komponen seperti housing baterai dan wiring harness, kontribusi TKDN dapat meningkat hingga 20 persen.

“Untuk mencapai 30 persen, battery management system-nya harus diproduksi di dalam negeri. Sedangkan untuk bisa mencapai 40 persen, sel baterainya harus diproduksi di Indonesia,” tambahnya.

Dengan mengombinasikan perakitan kendaraan CKD dan produksi sel baterai domestik, target TKDN 60 persen dinilai bisa dicapai secara lebih ringkas dan realistis.

Industri Sel Baterai Masih Terbatas

Sayangnya, hingga saat ini baru satu perusahaan industri baterai di Indonesia yang mampu memproduksi sel baterai secara mandiri. Sementara perusahaan lainnya masih sebatas melakukan pengemasan baterai dari sel impor.

Patia berharap, pada tahun ini produsen baterai lain bisa segera menyusul dan mempercepat investasi di sektor hulu baterai.

“Harapannya, industri baterai bisa mengejar ketertinggalan agar target TKDN nasional dapat tercapai,” ujarnya.

Enam Produsen Mobil Listrik Sudah Punya Peta Jalan TKDN 60 Persen

Meski tantangan masih besar, Patia mengungkapkan bahwa enam produsen mobil listrik yang telah melakukan CKD di Indonesia pada 2025 sudah memiliki roadmap untuk memenuhi TKDN 60 persen.

Enam perusahaan tersebut adalah:

  • Hyundai

  • Wuling

  • Chery

  • Neta

  • MG

  • Polytron

Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai serius membangun rantai pasok lokal, termasuk menjajaki kerja sama dengan industri baterai nasional.

Xpeng Dorong Dukungan Pemerintah untuk Lokalisasi Sel Baterai

BACA JUGA:Pemutihan Pajak Berakhir, Warga Jakarta Masih Bisa Dapat Diskon PKB 50 Persen! Ini Syarat Lengkapnya

Di sisi lain, produsen mobil listrik Xpeng melalui PT Era Industri Otomotif menyambut baik kebijakan TKDN, namun berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah, khususnya untuk lokalisasi produksi sel baterai.

Vice President Operations PT Era Industri Otomotif, Doddy Setiawan, mengatakan bahwa dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar investasi sel baterai bisa terealisasi.

“Kalau kita dapat dukungan untuk bisa melokalisasi sel itu, tentu akan sangat membantu industri meningkatkan TKDN-nya,” kata Doddy.

Xpeng sendiri merupakan salah satu merek KBLBB roda empat yang tengah bersiap melakukan CKD di Indonesia pada tahun ini, setelah sebelumnya menikmati insentif pemerintah berdasarkan Perpres 79/2023.

Menuju Ekosistem Mobil Listrik yang Mandiri

Kewajiban TKDN bukan sekadar persyaratan administratif, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional yang berkelanjutan.

Dengan produksi sel baterai di dalam negeri, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

 

Jika roadmap industri berjalan sesuai rencana dan didukung kebijakan yang konsisten, target TKDN 60 persen pada 2027 bukan sekadar ambisi, melainkan peluang nyata bagi masa depan industri otomotif nasional.

Kategori :