JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Menjelang libur dan arus mudik Idulfitri, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih. Lonjakan aktivitas transaksi selama periode Lebaran sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan aksinya.
Direktur Kepatuhan PT Bank Maybank Indonesia Tbk, Yessika Effendi, menjelaskan bahwa penipu kini banyak memanfaatkan teknik Social Engineering dan Phishing guna memperoleh data pribadi serta akses ke perangkat korban.
Menurutnya, metode tersebut memanfaatkan manipulasi psikologis agar korban panik dan akhirnya secara sukarela memberikan informasi sensitif seperti OTP, PIN, maupun password.
“Modus penipuan digital terus berkembang. Pelaku sering memanfaatkan kepanikan korban untuk memperoleh data penting. Momentum Lebaran sering dijadikan sasaran karena masyarakat cenderung lebih lengah,” ujar Yessika.
BACA JUGA:Program Maybank Syariah Salam Festival 2026 Tembus Rp1,98 Miliar, Ini Rinciannya!
Modus Penipuan yang Sering Digunakan
Dalam banyak kasus, pelaku penipuan biasanya menghubungi korban dengan menyamar sebagai pihak resmi, seperti pegawai bank, petugas pajak, dinas kependudukan, bahkan aparat penegak hukum.
Korban kemudian diberi informasi mengenai transaksi mencurigakan pada rekening mereka. Selanjutnya korban diarahkan untuk mengklik tautan palsu yang menyerupai situs resmi perbankan.
Selain itu, pelaku juga sering menggunakan berbagai cara lain, antara lain:
Mengirim file APK berisi malware untuk diunduh korban
Meminta korban melakukan share screen melalui WhatsApp
Meminta izin akses pada perangkat ponsel
Mengarahkan korban melakukan transfer dana dengan alasan biaya administrasi atau materai
Jika korban mengikuti instruksi tersebut, pelaku dapat mengambil alih perangkat dan mengakses layanan mobile banking tanpa izin.
Pelaku Tidak Meretas Sistem Bank
Yessika menegaskan bahwa dalam sebagian besar kasus, pelaku tidak meretas sistem perbankan secara langsung.