Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU

Jumat 10-07-2026,17:02 WIB
Reporter : Arrahman
Editor : Danang Pradhipta

SEMARAKNEWS.CO.ID --- Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua. Sebuah usia yang bukan lagi tentang bertahan, melainkan tentang menjaga arah. Organisasi sebesar NU tidak kekurangan kader, ulama, intelektual, maupun pengusaha. Yang sering menjadi tantangan justru bagaimana seluruh potensi itu tetap berada dalam satu tarikan napas: khidmah kepada umat.

Di tengah dinamika yang berkembang di tubuh PBNU, saya melihat kebutuhan akan sebuah poros tengah. Bukan poros yang mengaburkan prinsip, melainkan poros yang mampu menjahit kembali persaudaraan. Sebab NU sejak dilahirkan tidak dibangun di atas semangat menang-kalah, melainkan musyawarah, tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal.

Sebagai cicit KH Irfan bin Musa dari Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, saya dibesarkan dengan keyakinan bahwa adab adalah fondasi kepemimpinan. Ilmu dapat melahirkan kecerdasan, tetapi hanya adab yang melahirkan kewibawaan. Karena itu, ukuran seorang pemimpin NU tidak semata-mata diukur dari seberapa sering ia tampil di hadapan publik atau seberapa keras suaranya terdengar.

Kepemimpinan di lingkungan pesantren justru lahir dari keteladanan, kesabaran, keluasan hati, dan kemampuan merangkul mereka yang berbeda pandangan.

BACA JUGA:Sowan ke Tanah Bugis, Gus Salam Kantongi Kriteria Calon Ketum PBNU Ideal dari Ulama Sulsel!

• Tidak gila Pangung 

Dalam pandangan saya, Gus Gudfan Arif Ghofur menghadirkan karakter yang dekat dengan tradisi tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, tidak memiliki kegemaran mengejar panggung, dan lebih memilih bekerja daripada membangun popularitas. Sebagai seorang saudagar, ia menunjukkan bahwa kekayaan bukan alat untuk memperbesar pengaruh pribadi, melainkan sarana memperluas manfaat bagi umat.

Dalam pandangan banyak orang yang mengenalnya, Gus Gudfan Arif Ghofur mencerminkan karakter tersebut. Ia lebih nyaman bekerja di balik layar, membangun komunikasi, mempertemukan berbagai unsur, serta menjaga hubungan antarkiai, santri, akademisi, saudagar, dan generasi muda , Nahdlatul Ulama.

Baginya, persatuan jauh lebih penting daripada pencitraan. Sikap ini sejalan dengan nilai tawadhu' yang menjadi salah satu akhlak utama dalam tradisi NU. Dalam kitab Risâlatul Mu‘âwanah, yang dikutip oleh NU Online, Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa salah satu tanda orang yang tawadhu' adalah lebih menyukai tidak dikenal daripada mengejar kemasyhuran (حب الخمول وكراهية الشهرة). Orang yang tawadhu' bekerja dengan ikhlas tanpa menjadikan popularitas sebagai tujuan.


Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU-Dok-

Yang lebih penting, saya melihat pendekatan Gus Gudfan tidak dibangun melalui manuver politik yang gaduh. Ia justru memilih jalan sunyi: membangun komunikasi, menjaga silaturahmi, serta merangkul berbagai kalangan tanpa kehilangan adab.

BACA JUGA:Gus Muhaimin Didukung Gus Ibi Pimpin PBNU 2026

Dalam organisasi sebesar, Nahdlatul Ulama, karakter seperti inilah yang menurut saya dibutuhkan untuk mengurangi jarak antarkelompok dan mengembalikan fokus pada pengabdian.

• Melanjutkan jejak pengabdian kh Hasan Gipo (ketum PBNU 1926-1934)

Sejarah Nahdlatul Ulama selalu melahirkan tokoh yang tidak hanya besar karena jabatan, tetapi karena keteladanan. Salah satu di antaranya adalah KH. Hasan Gipo, Ketua Umum  pertama PBNU periode 1926–1934.

Ia dikenal sebagai seorang saudagar yang mengabdikan kemampuan, harta, jaringan usaha, dan pengaruhnya untuk membangun NU sejak masa kelahirannya.

Jejak itu menjadikan KH. Hasan Gipo dikenang bukan sekadar sebagai pemimpin organisasi, melainkan fondasi lahirnya tradisi saudagar yang mengabdi kepada jam'iyah, bukan menjadikan jam'iyah sebagai alat kepentingan.

Kategori :