Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU

Jumat 10-07-2026,17:02 WIB
Reporter : Arrahman
Editor : Danang Pradhipta

Begitu pula petuah yang lain:

تَوَاضَعْ إِذَا مَا كَانَ قَدْرُكَ عَالِيًا

فَإِنَّ اتِّضَاعَ الْمَرْءِ مِنْ شِيَمِ الْعَقْلِ

"Rendah hatilah ketika kedudukanmu tinggi, karena kerendahan hati adalah salah satu tanda kematangan akal."

Dua bait hikmah itu terasa sangat relevan bagi perjalanan , Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua. Organisasi ini tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar populer, tetapi pemimpin yang mampu menghadirkan keteduhan. Tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga mampu mendengar. Tidak hanya pandai mengelola organisasi, tetapi juga mampu menjaga hati seluruh warganya.

BACA JUGA:JSN Tegaskan Dukungan pada Supremasi Syuriyah PBNU dan Serukan Persatuan Warga NU

• Poros tengah Solusi Abad ke 2, Nahdlatul Ulama

Pada akhirnya, poros tengah bukan sekadar pilihan politik organisasi. Ia adalah ikhtiar untuk mengembalikan, Nahdlatul Ulama  kepada watak aslinya: rumah besar yang menaungi semua, mempersatukan semua, dan mengabdi kepada semua. Sebab , Nahdlatul Ulama  yang besar bukanlah, Nahdlatul Ulama yang dipenuhi kegaduhan, melainkan, Nahdlatul Ulama yang kokoh karena adab, kuat karena persaudaraan, dan mulia karena keikhlasan para pengabdinya.

Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang berbeda dengan satu abad pertama. Jika dahulu para muassis berjuang mendirikan dan mengokohkan jam'iyah, maka hari ini tantangannya adalah menjaga ruh pengabdian agar tidak tergerus oleh kepentingan sesaat, polarisasi, maupun intrik yang dapat mengikis ukhuwah.

Dalam pandangan banyak warga , Nahdlatul Ulama, abad kedua bukan sekadar tentang pergantian kepemimpinan, melainkan momentum untuk menghadirkan kembali kepemimpinan yang berangkat dari keikhlasan. Kepemimpinan yang tidak dibangun oleh ambisi, tetapi oleh amanah. Tidak digerakkan oleh hasrat menguasai, tetapi oleh keinginan melayani.

Pada titik inilah, Banyak kalangan menaruh harapan kepada Gus Gudfan Arif Ghofur. Harapan tersebut bukan semata karena sosoknya, melainkan karena nilai-nilai yang dipandang melekat pada dirinya: kesederhanaan, kemampuan merangkul, dan pilihan untuk bekerja lebih banyak daripada berbicara. NU sejak awal didirikan oleh para ulama yang meyakini bahwa keberkahan organisasi lahir dari keikhlasan (ikhlas) dan persaudaraan (ukhuwah). Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu."

(QS. Al-Hujurat: 10)

BACA JUGA:BNM Dukung Penuh Penetapan KH. Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU: Keputusan Wajib Dihormati

Ayat tersebut bukan hanya berbicara tentang hubungan antar individu, tetapi juga menjadi fondasi bagi setiap organisasi Islam agar menjaga persatuan di atas kepentingan kelompok. Dalam tradisi NU, para masyayikh juga mewariskan prinsip bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Karena itu, kepemimpinan yang lahir dari hati nurani warga jam'iyah akan lebih kokoh dibanding kepemimpinan yang dibangun oleh pertarungan kepentingan. Harapan terhadap Gus Gudfan Arif Ghofur muncul dari keinginan agar NU memasuki abad keduanya dengan semangat yang lebih teduh: tanpa saling menjatuhkan, tanpa politik pecah belah, dan tanpa mengorbankan persaudaraan demi kemenangan sesaat. Harapan ini adalah aspirasi yang hidup di banyak  warga NU, bukan sebuah klaim bahwa seluruh warga , Nahdlatul Ulama memiliki pandangan yang sama.

Membangun, Nahdlatul Ulama pada abad kedua memerlukan pemimpin yang mampu menjadi titik temu berbagai elemen—ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, dan generasi muda—dalam satu cita-cita besar: menjaga khidmah kepada umat.

Kategori :