Persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pendapat yang sama, tetapi karena semua sepakat menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi. Sebagaimana diajarkan oleh para pendiri, Nahdlatul Ulama, organisasi ini akan tetap besar apabila dipimpin oleh orang-orang yang siap mengabdi, bukan sekadar memimpin. Sebab sejarah, Nahdlatul Ulama selalu dibangun oleh mereka yang bekerja dengan hati, menghormati para ulama, dan memandang persaudaraan sebagai kekuatan utama.
BACA JUGA:FPN Angkat Suara Soal PBNU, Soroti Konflik Internal dan Kurangnya Ketegasan
Abad kedua Nahdlatul Ulama bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling ikhlas menjaga warisan para muassis. Jika kepemimpinan dijalankan dengan hati yang bersih, menjauhi intrik, serta berorientasi pada kemaslahatan umat, maka , Nahdlatul Ulama akan terus menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya. Dalam semangat itulah, banyak warga, Nahdlatul Ulama berharap Gus Gudfan Arif Ghofur dapat menjadi bagian dari ikhtiar membawa, Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya dengan keteduhan, persatuan, dan pengabdian yang murni.
Oleh: M. Nadhim Ardiansyah (Cicit KH Irfan bin Musa, Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal)