Rupiah Melemah ke Rp18.009, Pasar Dibayangi Drama BI dan Ancaman The Fed

Senin 27-07-2026,15:49 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Rupiah kembali kehilangan tenaga di hadapan dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin, mata uang Garuda ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.009 per USD dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.963 per USD.

Pelemahan tersebut juga tercermin dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah berdasarkan JISDOR bergerak turun ke level Rp17.995 per USD dari sebelumnya Rp17.973 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada perubahan kepemimpinan di Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur Bank Indonesia.

Untuk sementara, posisi tersebut dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga pemerintah menetapkan gubernur definitif.

Sementara dari luar negeri, tekanan berasal dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ibrahim mengatakan potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan mata uang global.

BACA JUGA:Dapur MBG Dilarang Pakai Minyakita dan Gas 3 Kg, Sudaryono Ultimatum yang Bandel Siap-Siap Digembok!

“Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish,” ujar Ibrahim seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

Kekhawatiran pasar terhadap kebijakan The Fed juga tercermin dalam CME FedWatch Tool. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 mencapai 78 persen. Namun, untuk pertemuan 28-29 Juli 2026, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan masih mempertahankan tingkat suku bunga di level yang sama.

Selain faktor suku bunga, tekanan terhadap pasar valuta asing juga datang dari meningkatnya risiko geopolitik global. Gangguan rantai pasok akibat konflik Amerika Serikat dengan Iran serta ketegangan antara kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi membuat aktivitas pelayaran komoditas di jalur strategis dunia ikut melambat.

BACA JUGA:Destry Damayanti Jadi Pjs Gubernur BI, Siapa Pengganti Perry Warjiyo?

Perlambatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb menjadi perhatian pasar karena kedua jalur tersebut merupakan titik penting bagi distribusi energi dan perdagangan global.

Kondisi tersebut membuat investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih menghadapi tekanan ketika dolar AS kembali menjadi pilihan utama pasar.

Kategori :