Rupiah Ambruk ke Rp18.024, Minyak Dunia Tembus USD 108, BI Turun Tangan

Rupiah Ambruk ke Rp18.024, Minyak Dunia Tembus USD 108, BI Turun Tangan

Rupiah melemah ke Rp18.024 per USD saat harga minyak dunia tembus USD 108. BI memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Rupiah kembali mendapat tekanan ketika harga minyak dunia ikut melonjak di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bank Indonesia menyebut kenaikan harga minyak hingga menembus USD 108 per barel atau sekitar Rp1,93 juta per barel menjadi salah satu biang pelemahan mata uang Garuda.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak datang sendirian. Kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal masih membayangi pasar, sementara kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz belum juga tercapai.

“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD 108 per barel atau sekitar Rp1,93 juta per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa, 29 September 2026.

Data Trading Economics menunjukkan rupiah berada di level Rp18.024 per USD pada Selasa, 29 September 2026 pukul 11.27 WIB. Meski melemah, BI menilai pergerakan rupiah masih mengikuti dinamika mata uang negara-negara kawasan.

Secara quarter to date atau sejak awal kuartal berjalan, rupiah tercatat melemah 0,67 persen. Di tengah tekanan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia justru meningkat menjadi USD 146,5 miliar atau sekitar Rp2.622,35 triliun pada akhir Agustus 2026.

Masalahnya, harga minyak yang naik ikut membuat pasar kembali menghitung kemungkinan kebijakan moneter Amerika Serikat diperketat lebih lanjut. Ekspektasi tersebut kemudian mendorong imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.

BACA JUGA:Bongkar Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong! Dirjen PAS Ultimatum Kalapas dan Rutan

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan valuta asing para importir yang meningkat menjelang berakhirnya kuartal III. Pada saat yang sama, dana portofolio mulai mengalir keluar dari negara-negara emerging markets ketika imbal hasil obligasi Amerika Serikat ikut menanjak.

BI mengatakan tidak akan membiarkan rupiah bergerak liar tanpa intervensi. Bank sentral menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dan nilai tukar bergerak sesuai fundamental ekonomi Indonesia.

Untuk meredam gejolak, BI juga mengatur struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar.

Stabilisasi rupiah turut diperkuat melalui pengelolaan likuiditas dan peningkatan insentif untuk instrumen Swap serta Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF lindung nilai bagi bank yang membutuhkan pendanaan dari luar negeri.

Erwin memastikan intervensi akan terus dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen. BI menggunakan transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder.

“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” ujar Erwin.

Dengan kata lain, ketika minyak dunia naik, yield obligasi AS ikut mendaki dan kebutuhan dolar meningkat, rupiah kebagian repotnya. BI pun harus kembali turun ke pasar untuk menjaga agar tekanan eksternal tidak berubah menjadi masalah yang lebih besar bagi nilai tukar.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya