JAKARTA, Semaraknews.co.id — Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menjadi alarm yang sulit diabaikan. Jika pemilihan presiden digelar hari ini, Presiden Prabowo Subianto justru diproyeksikan gagal mempertahankan kursi yang kini didudukinya.
Temuan itu dipaparkan SMRC dalam survei elektabilitas yang dirilis pada Rabu, 29 Juli 2026. Dalam simulasi pemilu semi terbuka, Prabowo hanya bertengger di posisi kedua, kalah cukup jauh dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan hasil simulasi tersebut menunjukkan peluang Prabowo untuk kembali menjadi presiden sedang tidak baik-baik saja.
“Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang dan Prabowo maju sebagai calon, kemungkinan dia tidak akan terpilih kembali,” ujar Deni Irvani dalam keterangannya, Rabu.
Dalam survei itu, Dedi Mulyadi mengumpulkan dukungan sebesar 35 persen. Sementara Prabowo hanya memperoleh 14,5 persen suara responden. Selisih keduanya mencapai 20,5 poin persentase.
BACA JUGA:Bansos Tak Lagi Dicairkan di Bank? Pemerintah Siapkan Kopdes Merah Putih Jadi Tempat Ambil Bantuan
Ironisnya, Dedi bukan lawan politik dari luar lingkaran kekuasaan. Ia merupakan kader Partai Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo sendiri. Menurut Deni, jurang dukungan di antara keduanya sudah tergolong lebar.
“Jaraknya cukup jauh,” kata Deni.
SMRC juga mencatat perubahan elektabilitas yang kontras dalam sembilan bulan terakhir. Pada survei November 2025, elektabilitas Prabowo masih berada di angka 34,9 persen. Namun pada survei Juli 2026, angkanya merosot menjadi 14,5 persen.
Di saat yang sama, grafik Dedi justru melesat. Dari sebelumnya 19,7 persen pada November 2025, kini naik menjadi 35 persen.
Kondisi itu semakin mencolok ketika SMRC menguji simulasi dua nama atau head to head. Dalam skenario tersebut, Dedi Mulyadi meraih dukungan 59 persen, sedangkan Prabowo hanya memperoleh 28,3 persen.
BACA JUGA:El Nino Maju Lebih Cepat, Istana Mulai Waswas Jangan Sampai Negeri Ini Keburu Terbakar
Survei ini melibatkan seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih sebagai populasi penelitian. Sebanyak 749 responden dipilih secara acak. Dari jumlah tersebut, 83,8 persen diwawancarai melalui sambungan telepon karena memiliki telepon seluler, sedangkan 16,2 persen yang tidak memiliki telepon diwawancarai secara tatap muka.
Komposisi itu disebut menyesuaikan proporsi masyarakat pengguna dan nonpengguna telepon seluler. SMRC menyebut survei memiliki margin of error sekitar 3,7 persen dengan pengambilan data dilakukan pada 5 hingga 19 Juli 2026.
Meski demikian, rekam jejak SMRC dalam membaca arah kontestasi politik sebelumnya cukup akurat. Menjelang Pemilu 2024, lembaga ini merilis survei yang menempatkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di posisi teratas dengan elektabilitas 57,3 persen. Hasil itu hanya terpaut sekitar 1,3 poin persentase dari rekapitulasi akhir Komisi Pemilihan Umum yang mencatat pasangan tersebut meraih 58,6 persen suara sah.