Para pembunuh mungkin membayangkan satu hal sederhana. Caesar mati, republik selamat.
Ternyata sejarah punya selera humor yang berbeda.
Dengan Caesar disingkirkan, para senator tidak memiliki rencana yang jelas mengenai bagaimana Roma akan diperintah setelahnya. Mereka berhasil membunuh orang yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap republik, tetapi tidak berhasil menyelesaikan krisis politik yang membuat Caesar bisa menjadi begitu kuat sejak awal.
Kredibilitas Senat juga sudah telanjur hancur. Roma kembali terjerumus ke dalam perang saudara.
Pada akhirnya, pembunuhan Caesar bukanlah pukulan terakhir terhadap pemerintahan satu orang. Justru sebaliknya, tindakan tersebut ikut membuka jalan bagi lahirnya pemerintahan kekaisaran.
Republik baru benar-benar menemukan bentuk stabilnya pada 27 SM ketika Augustus menjadi kaisar pertama Roma.
Ironisnya, para senator yang membunuh Caesar demi menyelamatkan republik justru ikut mempercepat kematian republik tersebut. Caesar memang tumbang di tangan mereka, tetapi sistem yang hendak mereka pertahankan ternyata sudah terlalu rapuh untuk diselamatkan hanya dengan sebilah belati.