Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi
Pembunuhan Julius Caesar dimaksudkan untuk menyelamatkan Republik Romawi, tetapi justru membuka jalan bagi lahirnya Kekaisaran Romawi.-Foto: Dok. GT Health.-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Republik Romawi sebenarnya sudah mulai ambruk jauh sebelum akhirnya secara resmi berganti menjadi kekaisaran. Tahun 49 SM menjadi titik penting ketika Julius Caesar membawa pasukannya menyeberangi Sungai Rubicon dan memicu perang saudara besar yang kemudian mengubah wajah politik Romawi untuk selamanya.
Secara formal, Republik Romawi memang masih bertahan selama dua dekade setelah itu. Namun, sejak Caesar berhadapan dengan Pompey dan Senat, aturan main politik Romawi praktis mulai berantakan. Caesar akhirnya keluar sebagai pemenang pada 45 SM dan setahun kemudian mengangkat dirinya sebagai diktator seumur hidup.
Keputusan itu tentu membuat para senator yang takut Roma berubah menjadi pemerintahan tiran tidak bisa tidur nyenyak. Mereka kemudian membunuh Caesar. Masalahnya, pembunuhan tersebut bukannya menyelamatkan republik, malah mempercepat keruntuhannya.
Pada 27 SM, Republik Romawi secara resmi berakhir. Augustus muncul sebagai kaisar pertama dan Roma memasuki babak baru sebagai sebuah kekaisaran. Dengan kata lain, para pembunuh Caesar berhasil menghabisi sang diktator, tetapi gagal menghidupkan kembali republik yang mereka klaim hendak selamatkan.
Republik Romawi Sudah Lama Sakit
Pada dekade 50-an SM, Republik Romawi sedang menghadapi krisis yang jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran antarelite. Persoalan dasarnya adalah sistem politik yang sudah tidak sebanding dengan ukuran dan kompleksitas wilayah kekuasaan Roma.
Lembaga seperti Senat pada awalnya dirancang untuk mengelola sebuah negara kota kecil di Italia. Ketika Roma berubah menjadi kekuatan raksasa yang menguasai wilayah luas di sekitar Mediterania dan menaungi jutaan penduduk, lembaga lama itu mulai kewalahan.
BACA JUGA:81 Tahun Merdeka tapi Rakyat Masih Susah, BEM UI Mau Demo Rebut Kemerdekaan di Bundaran HI Besok
“Namun, lembaga tersebut terbukti sangat tidak memadai dalam menangani kebutuhan jutaan warga yang tinggal di seberang Mediterania,” tulis Kiegan Barron di World Atlas.
Karena pemerintah pusat tidak selalu mampu mengendalikan wilayah yang begitu luas, para jenderal di daerah memperoleh kekuasaan yang semakin besar. Mereka memiliki pasukan sendiri dan mampu memberikan bayaran besar kepada para prajurit.
Di sinilah persoalannya mulai serius. Loyalitas tentara perlahan bergeser. Bukan lagi terutama kepada Republik Romawi, melainkan kepada jenderal yang membayar dan memimpin mereka.
Para jenderal kemudian menyadari bahwa pasukan bukan cuma alat untuk menaklukkan wilayah asing. Kalau mau, pasukan juga bisa dipakai untuk memenangkan pertarungan politik di dalam negeri.
Contoh paling terkenal sebelum Caesar adalah Lucius Cornelius Sulla. Ia dua kali membawa pasukannya menyerbu Roma dan memaksakan perubahan konstitusional besar-besaran. Yang paling berbahaya dari tindakan tersebut bukan hanya korban dan kekacauan yang ditimbulkan, tetapi preseden bahwa tentara boleh dibawa masuk ke arena politik domestik.
Dan begitu preseden itu tercipta, tinggal menunggu siapa yang cukup berani mengulanginya.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-