Bukan Cuma Pikiran, Usus Juga Ikut Campur Saat Tubuh Dilanda Stres

Rabu 26-08-2026,14:02 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Jangan-Jangan Usus Ikut Menentukan Seberapa Panik Kita

Penelitian yang diterbitkan dalam Neurobiology of Stress menunjukkan bahwa orang dengan mikrobioma usus yang lebih beragam dapat memiliki respons berbeda terhadap stres akut.

Mikrobioma yang beragam berarti terdapat lebih banyak variasi mikroorganisme yang hidup di dalam usus. Dalam penelitian tersebut, keragaman mikroba yang lebih tinggi berkaitan dengan respons kortisol yang lebih kuat serta laporan subjektif mengenai stres yang lebih tinggi pada orang dewasa sehat.

“Usus dan otak terus berkomunikasi melalui apa yang dikenal sebagai poros usus-otak,” jelas Thomas Karner, penulis penelitian sekaligus profesor psikologi di Wina University.

“Mikrobioma usus dan senyawa yang dihasilkannya dapat memengaruhi bagaimana sistem stres tubuh merespons tantangan, serta bagaimana kadar hormon stres diatur,” kata Karner.

BACA JUGA:253 Sekolah Dihantam Gempa Flores, 4 Nyawa Melayang, Kemendikdasmen Baru Pasang Tenda Darurat

Namun hubungan tersebut bukan jalan satu arah. “Pada saat yang sama, stres dapat mengubah komposisi mikrobioma usus. Stres juga memengaruhi integritas penghalang usus dan peradangan, serta mengubah produksi metabolit mikroba seperti asam lemak rantai pendek. Akibatnya, hubungan antara kesehatan usus dan stres tampaknya bekerja dalam dua arah.”

Jadi, bukan hanya isi kepala yang bisa memengaruhi isi perut. Isi perut juga berpotensi ikut memengaruhi cara tubuh menghadapi tekanan.

Di sinilah temuan penelitian tersebut menjadi menarik. Sebab stres tidak selamanya menjadi musuh.

Stres akut atau stres jangka pendek justru dapat membantu tubuh menghadapi tantangan atau ancaman yang sedang berlangsung. Karner menggambarkannya dengan contoh sederhana, seekor zebra yang sedang dikejar singa di savana.

Dalam kondisi tersebut, tubuh zebra membutuhkan energi dan perhatian penuh untuk bertahan hidup. Respons stres membantu memobilisasi energi sekaligus memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi.

BACA JUGA:Bahlil Sentil Menteri Golkar yang Baper Dikritik DPR, Jangan Merasa Paling Benar!

Karena itu, keragaman mikrobioma yang lebih tinggi mungkin berkaitan dengan respons stres yang lebih fleksibel dan tepat sasaran. Bukan sekadar kemampuan untuk menekan stres serendah mungkin.

“Dalam penelitian kami, keragaman mikroba usus yang lebih tinggi dikaitkan dengan kortisol yang lebih kuat dan reaktivitas stres subjektif setelah stresor akut, yang mungkin mencerminkan mobilisasi sistem stres yang terbatas waktu dan adaptif yang membantu kita menghadapi tantangan,” kata Karner.

Masalah baru muncul ketika zebra tadi sudah berhasil kabur dari singa, tetapi tubuhnya terus merasa sedang dikejar singa. Inilah gambaran sederhana mengenai stres kronis.

Stres kronis terjadi ketika sistem yang berkaitan dengan stres terus aktif dalam waktu lama atau berulang kali. Pada manusia, pemicunya bisa berupa kekhawatiran yang tidak kunjung selesai, tekanan sosial, ketidakpastian, tenggat waktu, maupun paparan berulang terhadap situasi sulit tanpa waktu pemulihan yang cukup.

Kategori :