Bukan Cuma Pikiran, Usus Juga Ikut Campur Saat Tubuh Dilanda Stres

Rabu 26-08-2026,14:02 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu sistem pengatur hormon stres dan memengaruhi otak, sistem kekebalan tubuh, serta mikrobioma usus.

“Mikrobioma yang lebih beragam mungkin lebih tahan terhadap gangguan ini,” tambah Karner. “Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami bagaimana keragaman mikrobioma memengaruhi transisi dari respons stres adaptif jangka pendek menuju konsekuensi negatif dari stres kronis.”

Artinya, jangan buru-buru menyalahkan usus setiap kali hidup terasa seperti sedang dikejar deadline. Penelitian ini baru menunjukkan adanya hubungan, bukan berarti mikrobioma adalah satu-satunya dalang.

Gen, Pengalaman, sampai Kepribadian Ikut Bermain

Genetika juga berperan dalam menentukan bagaimana seseorang mengalami stres, menurut Riley. Manusia pada dasarnya mengembangkan sistem respons stres untuk membantu nenek moyang menghadapi ancaman secara cepat.

Perbedaan genetik individu kemudian dapat membuat sistem tersebut bekerja dengan tingkat reaktivitas yang berbeda.

“Kita memiliki perbedaan individu,” kata Sinha. “Beberapa gen lebih reaktif, dan beberapa gen lain kurang reaktif pada orang yang berbeda.”

Bahkan pengalaman yang terjadi sebelum seseorang lahir dapat ikut membentuk respons tubuh terhadap stres. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan epigenetika, yakni perubahan kimia yang memengaruhi cara gen diekspresikan tanpa mengubah DNA itu sendiri.

BACA JUGA:Wajah Prabowo Berkibar di Langit Istana, Istana Bilang Itu Kebanggaan, Rakyat Disuruh Paham

Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Genes terhadap 71 penelitian menemukan bukti yang menghubungkan pengalaman traumatis dengan perubahan epigenetik yang berkaitan dengan pengaturan stres. Namun, para peneliti masih mencari tahu berapa lama perubahan tersebut bertahan dan apakah perubahan itu dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tinjauan tersebut berjudul “Predisposisi Genetik dan Faktor Ketahanan Genetik pada Gangguan Terkait Stres Selama Masa Perkembangan”.

Pengalaman hidup setelah lahir juga tidak kalah penting. “Sejak lahir, reaksi kita terhadap stresor sangat kompleks dan tertanam dalam pikiran dan tubuh kita,” kata Riley. “Saat kita tumbuh, kita belajar dari setiap pengalaman, dan sistem saraf kita memberikan perhatian khusus pada pengalaman yang menegangkan atau traumatis.”

Namun, pengalaman yang membentuk respons stres tidak harus selalu berupa trauma besar.

Bayangkan seseorang tiba-tiba pingsan di depan Anda. Orang yang tidak memiliki pelatihan medis mungkin langsung panik karena tidak tahu apakah kondisi tersebut berbahaya. Seorang tenaga medis yang melihat kejadian serupa mungkin justru tetap tenang karena mengetahui bahwa situasinya masih bisa ditangani.

“Mereka mungkin merasa yakin bahwa risikonya rendah dan situasinya dapat dikelola,” kata Riley.

Dengan demikian, pengalaman bukan cuma meninggalkan kenangan. Dalam kondisi tertentu, pengalaman juga menjadi semacam buku petunjuk bagi otak tentang bagaimana harus bereaksi ketika masalah datang lagi.

Kategori :