Ada yang Sedikit Panikan, Ada yang Memang Begitu Bawaannya
Temperamen dan kepribadian juga ikut membentuk respons seseorang terhadap stres, menurut Atwood.
Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology berjudul “Kepribadian dan Afek Terkait Stresor” menemukan bahwa orang dengan tingkat neurotisisme lebih tinggi cenderung mengalami reaksi emosional yang lebih tajam pada hari-hari penuh tekanan.
Sebaliknya, orang yang lebih ramah, terorganisasi, memiliki disiplin diri, atau terbuka terhadap pengalaman baru cenderung menunjukkan lonjakan emosi yang lebih kecil ketika menghadapi tekanan.
Sifat-sifat tersebut dapat memengaruhi bagaimana seseorang menafsirkan sekaligus menghadapi sebuah tantangan. Namun, para peneliti menekankan bahwa karakter tersebut merupakan kecenderungan, bukan vonis permanen mengenai seberapa kuat seseorang menghadapi stres.
BACA JUGA:BEM UI Diadang Polisi di Bundaran HI, Mau Bicara Kemerdekaan Kok Malah Dipagari?
Neurotisisme sendiri merupakan kecenderungan seseorang untuk lebih sering mengalami kekhawatiran dan emosi negatif.
Pada akhirnya, tidak ada satu gen, sifat kepribadian, maupun jenis mikroba tertentu yang bisa dijadikan hakim tunggal untuk menentukan bagaimana seseorang akan bereaksi ketika hidup mulai berantakan.
Respons stres merupakan hasil interaksi yang jauh lebih rumit antara otak, tubuh, pengalaman hidup, kepribadian, kondisi lingkungan, serta tuntutan yang sedang dihadapi.
Dan kalau penelitian soal mikrobioma ini benar-benar terus berkembang, mungkin kita akan semakin sadar bahwa ketika hidup terasa kacau, masalahnya tidak selalu cuma ada di kepala. Bisa jadi, jauh di bawah sana, usus kita juga sedang ikut rapat menentukan bagaimana cara menghadapi dunia.