Bukan hanya urusan transportasi yang disebut bermasalah. Didik juga mengatakan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menerima ancaman. Rumah Supriyono alias Botok, sopir sekaligus koordinator massa, misalnya, disebut ditembak menggunakan senapan angin oleh orang tak dikenal.
“Serangannya tiba-tiba, pelaku langsung pergi. Jendela rumah itu bolong,” ucap Didik.
Polda Jawa Tengah membenarkan adanya kerusakan pada jendela rumah tersebut. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Yuliyanto mengatakan polisi dari Polres Pati telah mengecek lokasi. Namun, polisi belum dapat memastikan senjata yang digunakan dalam penyerangan.
Tekanan terhadap rencana aksi juga disebut muncul melalui urusan rekening. Rekening Bank Mandiri milik Supriyono yang menjadi koordinator rencana aksi disebut diblokir sejak 21 Agustus 2026. Nilai dana di dalamnya mencapai Rp80 juta.
Pihak Bank Mandiri menyatakan pemblokiran dilakukan berdasarkan permintaan aparat. Namun tudingan bahwa rekening aktivis Pati sengaja diblokir untuk menggembosi aksi dibantah Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin.
Iman mengatakan penggalangan donasi memiliki aturan hukum sehingga kepolisian perlu meminta penjelasan kepada pihak terkait. Setelah dilakukan konfirmasi, ia menyebut transaksi pada rekening tersebut dapat kembali digunakan.
“Setelah kami konfirmasi, hari ini kami sampaikan bahwa penundaan transaksi itu sudah dapat dibuka kembali,” kata Iman dalam konferensi pers bersama Komisi III DPR pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan juga menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti permintaan aparat untuk membuka kembali rekening tersebut.
“Kami segera mengaktifkan kembali,” kata Riduan.
Dugaan tekanan tidak berhenti di dunia nyata. Didik mengatakan sejumlah akun WhatsApp milik Supriyono dan beberapa anggota massa lainnya juga tidak dapat diakses.
Situasi serupa dialami Fahrizal, mahasiswa Universitas Trilogi yang bergabung dalam Aliansi Gerakan Masyarakat Menggugat. Aliansi yang terdiri atas belasan organisasi mahasiswa dan kelompok kepemudaan itu juga berencana menggelar aksi di depan Gedung DPR pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Tuntutan kelompok Fahrizal lebih banyak diarahkan kepada kebijakan pemerintahan Prabowo. Mereka antara lain meminta penghentian program makan bergizi gratis, Koperasi Desa Merah Putih, serta pembentukan batalion teritorial pembangunan.
Fahrizal mengatakan aplikasi perpesanan di telepon genggamnya tidak dapat digunakan selama sekitar sepekan. Akun media sosial BEM Universitas Trilogi juga disebut mengalami penonaktifan.
“Akun sosial media BEM Universitas Trilogi juga terkena nonaktif. Kawan-kawan kami di Aliansi juga diteror verbal oleh orang tak dikenal,” kata Fahrizal di depan Gedung DPR, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Pemerintah sendiri menyebut aksi demonstrasi sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan tidak ada yang istimewa dari rencana demonstrasi masyarakat sipil pada Agustus ini.
“Setiap warga berhak menyampaikan aspirasi, tentunya dalam koridor aturan yang berlaku,” kata Qodari pada Rabu, 26 Agustus 2026.