JAKARTA, Semaraknews.co.id — Wakil Ketua Dewan Pimpinan Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tanjung membaca ada sinyal politik dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Menurut Doli, pidato AHY dalam peringatan ulang tahun Demokrat pada Sabtu, 5 September 2026, terdengar seperti kode bahwa putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono itu mulai mempertimbangkan maju dalam Pilpres 2029.
Bukan cuma soal isi pidato, Doli mengaku membaca sinyal itu dari cara AHY menyampaikan pesan, gestur, hingga posisi politiknya saat ini. Semua itu, menurut dia, mengarah pada kemungkinan AHY bersiap masuk gelanggang perebutan kursi RI 1.
“Dilihat dari cara penyampaian, gestur, dan posisi berdirinya, AHY seperti memberi sinyal kuat bahwa beliau siap menjadi salah satu kontestan dalam pilpres mendatang,” kata Doli melalui pesan singkat, Ahad, 6 September 2026.
Dalam pidatonya, AHY memang mengingatkan kader Demokrat agar tidak mabuk jabatan dan terlena oleh kekuasaan. Kekuasaan, kata dia, sifatnya sementara. Demokrat pun diminta belajar dari pengalaman selama 10 tahun, baik ketika berada di dalam pemerintahan maupun saat menjadi oposisi.
Menurut AHY, partai politik seharusnya tidak sekadar sibuk mengejar kemenangan dalam pemilu. Ada pekerjaan yang lebih besar, yakni memastikan rakyat mendapatkan kesejahteraan.
Putra sulung Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono itu juga menyinggung demokrasi yang tidak boleh dipersempit menjadi sekadar urusan mencoblos setiap lima tahun. Sebab, pesta demokrasi boleh selesai, tetapi urusan rakyat tidak mengenal hari libur.
“Kekuasaan datang dan pergi, jabatan ada waktunya, pemilu memiliki siklusnya, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tidak pernah selesai,” kata AHY.
AHY juga meminta kader Demokrat berani jujur melihat persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Pesan tersebut cukup menarik karena Demokrat saat ini bukan lagi duduk manis di luar pagar pemerintahan, melainkan menjadi bagian dari koalisi Presiden Prabowo Subianto.
AHY sendiri duduk sebagai Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Karena itu, ketika ia bicara soal tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, pesannya sekaligus terdengar seperti kritik dari dalam rumah sendiri.
“Tekanan itu nyata. Lapangan pekerjaan yang berkualitas belum cukup, daya beli banyak keluarga masih tertekan, kelas menengah menghadapi biaya hidup yang makin berat,” kata AHY.
Doli yang juga berasal dari partai pendukung pemerintah mengaku sepakat bahwa demokrasi harus terus dijaga dan negara memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup rakyat. Namun, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab tersebut juga melekat pada AHY karena yang bersangkutan merupakan bagian dari Kabinet Merah Putih.
Apalagi, persoalan ekonomi dan kesulitan hidup masyarakat bukan perkara yang bisa dilempar hanya kepada satu pihak. Pemerintah, DPR, dan partai politik sama-sama punya bagian dalam urusan tersebut.
BACA JUGA:Kemensos Rancang Kurikulum Keterampilan Sekolah Rakyat Demi Penguatan Kompetensi Siswa di Masa Depan
“Fenomena seperti itu makin menguatkan bahwa ternyata ‘magnet’ Pilpres 2029 tidak bisa terhindarkan lagi dan makin terbuka. Sepertinya beberapa kekuatan sudah mulai pasang ‘kuda-kuda’,” ujar anggota Komisi II DPR tersebut.