Jakarta Kebanjiran Sampah Elektronik, 9.000 Sekolah Diminta Jadi Benteng E-Waste

Senin 28-09-2026,07:30 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id -- Pemerintah Provinsi Jakarta mulai memperluas pengelolaan sampah elektronik lewat program E-Waste School Movement. Program yang digagas PT Daur Ulang Sampah Elektronik atau EwasteRJ bersama Dinas Lingkungan Hidup Jakarta dan Dinas Pendidikan Provinsi Jakarta itu dimulai dari SMAN 68 Jakarta.

Program tersebut menyasar sekolah sebagai pintu masuk untuk membangun kebiasaan memilah sampah elektronik. Sebab, kalau urusan sampah elektronik cuma diserahkan kepada masyarakat tanpa tempat membuang yang jelas, ujung-ujungnya kabel, charger, ponsel rusak, baterai dan berbagai perangkat elektronik bekas bisa berakhir di tempat sampah biasa.

Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data dan Informasi Dinas LH Jakarta Elisabeth Tarigan mengatakan E-Waste School Movement menjadi salah satu cara untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan dan pemilahan sampah elektronik.

Program ini akan dimulai dari sekolah Adiwiyata sebelum diperluas ke sekolah-sekolah lainnya. SMAN 68 Jakarta dipilih sebagai sekolah perwakilan dalam tahap awal program tersebut.

“SMAN 68 dipilih untuk mewakili, selanjutnya akan terus bergerak ke sekolah-sekolah lain yang sudah Adiwiyata dulu. Ada 441 sekolah Adiwiyata dari total sekitar 9.000 sekolah di seluruh wilayah Jakarta,” kata Elisabeth seusai acara kick-off di SMAN 68 Jakarta, Selasa, 22 September 2026.

Perluasan program ini dianggap penting karena akses masyarakat terhadap fasilitas pengumpulan sampah elektronik masih terbatas. Dinas LH Jakarta memang sudah menyediakan drop box sampah elektronik di sejumlah kantor pemerintah dan gedung, tetapi jumlahnya belum bisa menutup kebutuhan karena terbentur keterbatasan sarana dan anggaran.

BACA JUGA:Prabowo Sentil Pemda, Duit Triliunan Ditransfer tapi Mengendap di Bank

Lewat program baru ini, setiap sekolah nantinya akan memiliki satu drop box khusus untuk menampung sampah elektronik. Jumlah satu kotak per sekolah dianggap cukup karena karakter sampah elektronik berbeda dengan sampah organik maupun anorganik yang volumenya jauh lebih besar.

“Karena sampah elektronik bukan seperti sampah organik atau anorganik yang membutuhkan banyak tempat seperti itu,” tuturnya.

Sampah elektronik yang terkumpul nantinya tidak akan berhenti di kotak penampungan. Sampah tersebut akan diangkut dan diteruskan kepada pihak yang memiliki fasilitas pengolahan khusus.

Jadwal pengambilannya akan menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah. Sampah bisa diangkut ketika drop box sudah penuh atau berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.

Elisabeth berharap skema tersebut membuat perjalanan sampah elektronik menjadi lebih jelas dan terdata, termasuk sampai ke tahap pengolahan akhir. Urusan ini memang tidak sesederhana membuang barang rusak lalu berharap masalah selesai dengan sendirinya.

“Karena lebih susah daripada mengolah plastik. Plastik saja sudah susah selama ini, nah sampah elektronik lebih susah lagi,” ucapnya.

Founder EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan pihaknya menargetkan seluruh sekolah Adiwiyata di Jakarta dapat masuk dalam program tersebut dalam waktu satu tahun. Setelah itu, program akan terus diperluas melalui roadshow ke berbagai daerah.

BACA JUGA:AHY Sentil Soal Takhta, Prabowo Balik Puji Kritik Demokrat: Jangan Mabuk Kekuasaan!

“Kami tidak berhenti hanya di satu kota, tapi akan terus melakukan roadshow. Namun sekarang kami mulai dari sekolah Adiwiyata dulu,” kata Rafa.

Rafa mengatakan konsep serupa juga akan dibawa ke sejumlah daerah lain. Setelah Jakarta, EwasteRJ berencana mengembangkan program tersebut di Yogyakarta, Bali dan Bandung.

“Nanti secara bersamaan kami pindah ke Jogja, ke Bali, ke Bandung,” ujarnya.

Menurut Rafa, persoalan sampah elektronik sebenarnya tidak selesai hanya dengan membangun fasilitas pengolahan atau menaruh drop box di banyak tempat. Ada satu bagian yang sering dianggap sepele, tetapi justru menentukan, yakni kesadaran masyarakat.

Infrastruktur fisik tanpa infrastruktur sosial pada akhirnya cuma menghasilkan kotak-kotak kosong. Masyarakat perlu tahu apa yang termasuk sampah elektronik, ke mana harus membuangnya dan mengapa barang tersebut tidak semestinya dicampur dengan sampah rumah tangga biasa.

“Kalau misalnya orang-orang saja tidak tahu e-waste itu apa, kami tidak akan berguna. Mau membuat drop box sampai satu juta titik pun nanti tidak ada yang membuang ke sana.”

Kategori :