AHY Sentil Soal Takhta, Prabowo Balik Puji Kritik Demokrat: Jangan Mabuk Kekuasaan!

AHY Sentil Soal Takhta, Prabowo Balik Puji Kritik Demokrat: Jangan Mabuk Kekuasaan!

AHY mengingatkan kekuasaan punya batas waktu. Prabowo merespons dengan memuji kritik dan koreksi sebagai bagian penting dari demokrasi.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Presiden Prabowo Subianto merespons pidato politik Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY yang menyinggung siklus pemilu, batas kekuasaan, dan masa jabatan. Respons itu disampaikan Prabowo dalam puncak perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, Rabu, 9 September 2026.

Prabowo menilai pidato Ketua Umum Partai Demokrat tersebut disampaikan secara sistematis dan tegas. Ia mengakui, ada pihak yang membaca pidato AHY sebagai kritik politik yang cukup menusuk.

Namun, menurut Prabowo, kritik semacam itu justru menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. “Tapi saudara-saudara, memang bangsa yang besar, yang sudah memilih jalan demokrasi, harus berterima kasih atas kritik dan koreksi,” kata Prabowo dalam pidatonya setelah AHY memberikan sambutan.

Meski pidato AHY ramai dibaca sebagai kritik, Prabowo mengatakan AHY tetap menunjukkan ketegasan dalam menjalankan tugas untuk rakyat. Ia juga mengapresiasi tema HUT Demokrat tahun ini yang mengusung semangat memajukan ekonomi rakyat, menegakkan keadilan, dan menjaga demokrasi tetap hidup.

“Inilah yang kita harus perjuangkan dan inilah tanggung jawab kita semua,” ujar Prabowo.

BACA JUGA:Prabowo Bilang Anggaran Pertahanan Kecil, 360 Kabupaten Disebut Masih Tanpa Batalion

Prabowo kemudian mengingat kembali dukungan Partai Demokrat terhadap dirinya dalam dua kontestasi pemilihan presiden, yakni pada 2019 dan 2024. Ia juga menyebut Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY ikut turun ke lapangan untuk mengkampanyekan dirinya.

Menurut Prabowo, dukungan itu muncul karena keduanya memiliki cita-cita dan prinsip yang sama. Ia bahkan mengaitkan pengalamannya bersama SBY sebagai mantan jenderal TNI.

“Karena kita memang punya cita-cita dan prinsip yang sama. Saudara-saudara, Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah. Tapi kita TNI yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat. Kita dididik dari kecil sebagai tentara rakyat yang berjuang untuk rakyat,” kata Prabowo.

Sebelumnya, AHY menyampaikan pidato politik di Auditorium Yudhoyono, Jakarta Pusat, pada 5 September 2026. Dalam pidato itu, AHY berbicara mengenai batas waktu kekuasaan dan jabatan. Pesannya cukup sederhana, tetapi barangkali perlu diulang-ulang di negeri yang kursi kekuasaan sering terasa seperti sofa ruang keluarga.

AHY mengingatkan kader Demokrat bahwa tidak ada kekuasaan yang berlangsung selamanya. Ia juga menyinggung pengalaman Demokrat yang pernah berada di dalam maupun di luar pemerintahan.

Dalam sambutan puncak HUT ke-25 Demokrat, AHY kemudian merasa perlu menjelaskan kembali maksud pidato politiknya. Ia mengatakan pidato tersebut ditujukan untuk menyemangati kader Demokrat agar memahami tanggung jawab mereka sebagai bagian dari pemerintahan.

“Izinkan saya mempertegas isi dari pidato politik tersebut karena saya khawatir ada yang salah tafsir. Posisi Demokrat jelas, posisi Demokrat jelas, kami ingin pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhasil. Tidak ada hal lain selain kesuksesan dan keberhasilan pemerintahan ini,” kata AHY dalam sambutannya di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, Rabu, 9 September 2026.

AHY mengatakan keberhasilan pemerintahan bukan cuma milik presiden, kabinet, atau partai-partai yang menjadi pendukung pemerintah. Jika pemerintah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat, membuka lapangan pekerjaan, menjaga stabilitas, dan memperkuat perekonomian, keberhasilan tersebut menurut dia menjadi keberhasilan bersama.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya