Perang Timur Tengah Bikin Logistik Energi Dunia Terancam, Bahlil Sampai Tak Bisa Tidur

Selasa 13-10-2026,09:20 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Urusan mencari minyak kini bukan perkara tinggal tunjuk negara pemasok, lalu barang datang sesuai pesanan. Di tengah konflik Timur Tengah yang kian melebar, pemerintah Indonesia harus memutar otak untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengakui ketegangan geopolitik telah memperburuk risiko terhadap rantai pasok energi dunia.

Bahlil menyoroti rangkaian ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, hingga kelompok Houthi dan Arab Saudi. Menurut dia, konflik yang meluas berpotensi mengganggu arus logistik sekaligus mengancam ketahanan energi global.

“Ketegangan antara Iran, Amerika, Israel, dan sekarang masuk Houthi juga masuk ke Arab Saudi, ini akan semakin memperparah arus logistik dan ketahanan energi dunia,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026, seperti dikutip dari Antara.

Masalahnya, tidak ada yang bisa memastikan kapan ketegangan tersebut berakhir. Bahlil mengatakan situasi geopolitik yang terus berubah membuat pemerintah harus menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri, terutama bahan bakar minyak.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah melobi sejumlah negara untuk mencari sumber pasokan minyak alternatif. Upaya itu dilakukan agar Indonesia tidak bergantung pada satu jalur atau negara pemasok ketika konflik mengganggu distribusi energi internasional.

BACA JUGA:Data Santri Tembus 4,6 Juta, Kemenag Masih Beres-Beres Data Pesantren

“Makanya, Menteri ESDM nggak bisa tidur terlalu panjang, karena lobi minyak di mana-mana. Lobi minyak di Afrika, untung saja kan orang Afrika itu kulitnya sama dengan saya,” tutur Bahlil sembari berkelakar.

Di balik kelakar tersebut, ada persoalan yang lebih serius. Ketika konflik geopolitik mengganggu jalur distribusi, negara pengimpor minyak harus bergerak cepat mencari pemasok lain. Persaingan memperoleh pasokan pun dapat meningkat, terutama jika gangguan berlangsung lama dan memengaruhi pengiriman minyak dari kawasan strategis.

Bahlil menegaskan pemerintah tidak membatasi pencarian minyak pada negara atau kawasan tertentu. Selama pasokan tersebut memenuhi pertimbangan efisiensi dan tidak melanggar ketentuan hukum, Indonesia akan mempertimbangkannya.

“Selama itu efisien untuk kebaikan negara, dan tidak melanggar aturan, maka itu akan menjadi prioritas negara,” ucap Bahlil.

Bagi Indonesia, menjaga pasokan energi bukan sekadar memastikan minyak tersedia. Pemerintah juga perlu memperhitungkan biaya pengadaan, kelancaran pengiriman, dan risiko gangguan distribusi yang dapat memengaruhi harga energi di dalam negeri.

Konflik Meluas, Jalur Energi Ikut Terancam

Ketegangan di Timur Tengah turut meningkatkan risiko keamanan di sekitar Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur tersebut menjadi salah satu titik penting bagi perdagangan internasional, termasuk pengiriman energi.

Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menambah kerawanan di kawasan tersebut. Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan terhadap kelompok Houthi sebagai bagian dari dukungannya terhadap pasukan pemerintah Yaman. Houthi sendiri mendapat dukungan dari Iran.

BACA JUGA:Prabowo Belum Mau Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional, Pemerintah Masih Sanggup Katanya

Kelompok Houthi kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi. Menurut informasi otoritas penerbangan sipil Arab Saudi yang dikutip dalam laporan tersebut, serangan ketiga Houthi dalam sepekan terhadap Bandara Internasional Riyadh menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya.

Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana konflik bersenjata dapat merembet ke sektor transportasi dan logistik. Gangguan terhadap infrastruktur penerbangan maupun jalur pelayaran berpotensi menambah ketidakpastian distribusi barang, termasuk komoditas energi.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan bahwa negaranya tetap berkomitmen menjaga kelangsungan pasokan energi dalam berbagai keadaan. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Bagi Indonesia, persoalannya kini bukan hanya mencari minyak dari mana pun sumbernya tersedia. Pemerintah juga harus memastikan sumber pasokan alternatif tersebut dapat diandalkan ketika konflik berkepanjangan, tanpa menimbulkan beban pengadaan yang terlalu besar.

Pernyataan Bahlil tentang lobi minyak ke berbagai negara menunjukkan upaya pemerintah memperluas pilihan pemasok. Namun, efektivitas langkah tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia memperoleh pasokan secara efisien dan menjaga kelancaran distribusinya di tengah ketidakpastian geopolitik.

Kategori :