Bukan dengan Vape! Dokter Paru Ungkap Cara 5 Kali Lebih Efektif Berhenti Merokok
bahaya rokok-@pramborsfm-Instagram
SEMARAKNEWS.CO.ID - Merokok memang sudah lama dikenal sebagai salah satu penyebab kematian terbesar yang bisa dicegah, tapi faktanya kebiasaan ini masih sangat sulit dihentikan oleh para penggunanya.
Penasehat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sekaligus Direktur RS Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto, menegaskan bahwa rokok tetap menjadi ancaman utama bagi kesehatan masyarakat Indonesia.
“Rokok adalah penyebab utama kematian yang sebenarnya dapat dicegah,” ujar Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Menurutnya, bahan kimia berbahaya dalam rokok dapat menyebabkan kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), asma, dan berbagai infeksi paru-paru lainnya.
BACA JUGA:Citroën C3 Sport Resmi Debut di GIIAS Bandung 2025, Tampil Lebih Sporty dan Dinamis
Jumlah Perokok Muda Naik Drastis, Vape Bukan Solusi
Ironisnya, meski bahaya rokok sudah diketahui luas, jumlah penggunanya justru terus meningkat — terutama di kalangan anak muda di bawah usia 18 tahun.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey, jumlah pengguna rokok elektronik (vape) di usia 15 tahun ke atas melonjak 13 kali lipat, dari 480 ribu pengguna pada 2011 menjadi 6,6 juta pengguna pada 2021.
Alih-alih berhenti merokok, banyak perokok justru beralih ke vape karena menganggapnya lebih aman. Padahal, menurut dr. Agus, anggapan tersebut keliru besar.
“Penggunaan vape justru bisa menambah masalah baru, termasuk gangguan kesehatan mental pada anak muda seperti kecemasan, depresi, bahkan bisa berujung pada percobaan bunuh diri,” jelasnya.
Berhenti Merokok Tidak Mudah, Tapi Bukan Mustahil
dr. Agus mengakui bahwa berhenti merokok memang bukan hal yang mudah. Dari hasil penelitian, 63,4% perokok pernah berusaha mengurangi atau berhenti, namun 9 dari 10 di antaranya gagal.
Kegagalan itu bukan karena kurang niat, tapi karena tubuh sudah kecanduan nikotin — zat utama dalam rokok yang menimbulkan efek ketagihan.
Untuk membantu para perokok lepas dari jeratan nikotin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan Terapi Pengganti Nikotin (Nicotine Replacement Therapy/NRT).
Apa Itu NRT dan Bagaimana Cara Kerjanya?
NRT adalah obat yang mengandung nikotin dalam dosis rendah dan terkontrol. Berbeda dengan rokok, nikotin dalam NRT sudah teruji klinis lebih aman, tidak menyebabkan kanker, dan tidak merusak paru-paru.
Tujuan NRT adalah membantu perokok mengurangi keinginan merokok secara bertahap, sehingga mereka bisa berhenti sepenuhnya tanpa efek sakau.
“NRT ini terbukti secara klinis lebih efektif 5 kali lipat membantu orang berhenti merokok dibanding hanya mengandalkan niat sendiri,” kata dr. Agus.
Rokok biasa mengantarkan nikotin ke otak hanya dalam 7 detik, sehingga menimbulkan sensasi nikmat yang membuatnya sulit dihentikan.
Sedangkan NRT bekerja dengan melepas nikotin lebih lambat dan dalam dosis kecil, sehingga tubuh bisa beradaptasi tanpa ketergantungan berat.
Selain itu, NRT juga mengurangi efek tidak nyaman saat berhenti merokok seperti mudah marah, sulit tidur, dan susah konsentrasi.
Durasi Penggunaan dan Ketersediaan di Indonesia
Terapi NRT umumnya digunakan selama 8 hingga 12 minggu — cukup untuk membantu tubuh terbiasa tanpa nikotin berlebih.
Di Indonesia, kini sudah tersedia produk NRT yang bisa diakses publik dengan mudah. Salah satunya adalah Nicorette, produk berbentuk permen karet pengganti nikotin yang telah berizin BPOM dan bisa dibeli bebas di apotek.
Fika Yolanda, Associate Marketing Director Kenvue Indonesia, produsen Nicorette, mengatakan bahwa produk ini dapat digunakan bahkan oleh usia 18 tahun ke atas yang ingin berhenti merokok.
“Agar lebih masif, kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk melakukan edukasi lebih luas kepada masyarakat, terutama kepada perokok muda,” jelas Fika.
Rokok Bukan Hanya Merusak Paru, Tapi Juga Bumi
Selain efek buruk bagi kesehatan manusia, rokok juga berdampak negatif bagi lingkungan. Sisa puntung rokok merupakan salah satu bentuk sampah beracun yang paling banyak ditemukan di dunia.
Butuh waktu lebih dari 10 tahun bagi satu puntung rokok untuk terurai di alam. Jika dibuang sembarangan, bahan kimia di dalamnya bisa mencemari tanah dan air.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-