Marwah Ulama Harga Mati! PNIB dan Mahasiswa Geruduk KPI Desak Sanksi untuk Trans7
Trans7 Dinilai Lecehkan KH Anwar Manshur,---Dok. Istimewa
JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Gelombang amarah umat Islam dan suara rakyat Indonesia memadati depan kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di JAKARTA pada Kamis, 16 Oktober 2025.
Ribuan massa dari Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), BEM PTNU, serta Forum Mahasiswa dan Pagar Nusa (FMPN) turun ke jalan dengan satu tuntutan utama: Trans7 harus mendapat sanksi terberat berupa pencabutan izin siar tanpa kompromi.
Aksi tersebut tidak hanya menjadi bentuk protes, tetapi juga simbol bahwa kehormatan ulama adalah harga mati bagi umat Islam Indonesia dan bagian dari marwah bangsa.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), dengan nada tegas dan penuh emosi mengecam keras tindakan Trans7 yang dinilai telah menayangkan narasi merendahkan KH Anwar Manshur dan Pondok Pesantren Lirboyo.
Ia menyebut hal itu sebagai tindakan tidak beradab terhadap kehormatan ulama serta warisan spiritual bangsa.
“Perbuatan ini bukan sekadar penghinaan terhadap sosok kiai, tetapi juga upaya sistematis yang dapat memecah belah rakyat Indonesia dan mengaburkan sejarah peradaban bangsa. Ini pola yang berbahaya, yang bisa menghancurkan kesatuan negeri seperti yang terjadi di Nepal, Suriah, Libya, hingga Yugoslavia,” ujar Gus Wal dalam orasinya.
Ia menegaskan, bangsa Indonesia berdiri atas dasar perjuangan dan doa para ulama. Karena itu, penghinaan terhadap mereka sama saja dengan merendahkan fondasi bangsa.
“Bung Karno saja sangat menghormati KH Mahrus Aly, bahkan datang langsung ke Lirboyo dengan penuh takzim. Namun kini, keponakan sekaligus menantunya, KH Anwar Manshur, justru dilecehkan secara terbuka oleh media yang mengaku nasionalis tapi lupa akar sejarahnya sendiri,” seru Gus Wal yang disambut gemuruh massa aksi.
Menurutnya, tayangan kontroversial itu tidak bisa dianggap sekadar kesalahan teknis redaksi.
Ia menilai hal tersebut merupakan bagian dari agenda besar untuk melemahkan peran ulama dan pesantren Nusantara, serta menodai citra Islam yang moderat dan toleran di Indonesia.
“Trans7 tidak hanya menyinggung Lirboyo, tapi juga menantang harga diri umat Islam dan rakyat Indonesia. Jika KPI masih punya nurani, segera ambil tindakan tegas. Cabut izin siarnya sebelum rakyat kehilangan kesabaran!” tegas Gus Wal.
Ia menambahkan, PNIB bersama BEM PTNU dan FMPN akan terus mengawal kasus ini hingga KPI memberikan keputusan yang berpihak pada kebenaran.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-