Kasus SMAN 1 Cimarga Berbuntut Panjang, Sekda Lebak: Perusahaan Jangan Blacklist Alumni, 'Lihat Secara Holistik'!

Kasus SMAN 1 Cimarga Berbuntut Panjang, Sekda Lebak: Perusahaan Jangan Blacklist Alumni, 'Lihat Secara Holistik'!

SMAN 1 Cimarga-ilustrasi-berbagai sumber

SEMARAKNEWS.CO.ID - Meski kasus antara Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten dengan seorang siswa yang ditampar karena ketahuan merokok di kelas telah diselesaikan secara damai, suasana di lingkungan sekolah masih belum sepenuhnya tenang.

Peristiwa itu sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama setelah muncul video sejumlah siswa yang melakukan aksi boikot dan membela teman mereka yang tertangkap merokok.

Tak sedikit netizen yang geram dan meluapkan kekesalannya dengan menyerukan agar lulusan SMAN 1 Cimarga dimasukkan dalam daftar hitam (blacklist) oleh berbagai perusahaan.

Namun, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebak, Budi Santoso, mengingatkan agar publik  terutama kalangan HRD perusahaan  tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi dan opini warganet.

BACA JUGA:TNI Perintahkan Warga Natuna Tak Beraktivitas di Luar Rumah, Anak-anak dan Lansia Diminta Mengungsi, Ada Apa?

“Jangan Tergesa-gesa, Lihat Secara Holistik”

Dalam keterangannya, Budi menilai bahwa kasus di SMAN 1 Cimarga tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Menurutnya, tidak semua siswa terlibat dalam insiden itu, sehingga tidak adil jika seluruh alumni sekolah tersebut dicap negatif.

“Tidak boleh begitu, yang namanya orang tidak selamanya begitu. Dan melihat kasus ini harus holistik dong,” ujar Budi Santoso kepada wartawan, dikutip beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, tidak semua siswa SMAN 1 Cimarga ikut-ikutan membela tindakan salah, dan banyak dari mereka yang tetap menjaga sikap disiplin. Karena itu, pemberian label buruk terhadap seluruh lulusan dianggap sebagai bentuk ketidakadilan.

“Bukan karena anaknya, mungkin ada masalah lain kan, tapi anak-anak harus kita selamatkan, mungkin mereka ikut-ikutan. Masa kita tidak tega,” imbuhnya.

Sekda: “Anak-anak Harus Diselamatkan, Bukan Dihukum Sepanjang Hidup”

Budi menyoroti pentingnya peran semua pihak baik masyarakat, guru, maupun pemerintah daerah untuk tidak menjadikan kesalahan siswa sebagai stigma permanen yang bisa menghambat masa depan mereka.

Ia menekankan bahwa peristiwa ini seharusnya dijadikan pembelajaran bersama, bukan alat untuk saling menyalahkan.

“Jadi harus paham semua, dan harus dewasa semua melihat persoalan ini,” ujarnya dengan nada tegas.

Perusahaan Diminta Profesional dalam Rekrutmen

Menanggapi seruan netizen agar perusahaan menolak lulusan SMAN 1 Cimarga, Budi meminta agar pihak HRD tetap menjunjung tinggi profesionalisme dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Menurutnya, rekrutmen harus berdasarkan kompetensi dan hasil tes objektif, bukan opini publik atau sentimen emosional yang belum tentu benar.

“Harus profesional lah, kan mau kerja biasa di tes,” tegas Budi.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu punya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, dunia kerja seharusnya tidak menutup pintu bagi mereka hanya karena kasus viral yang melibatkan sebagian kecil siswa.

Fokus pada Pemulihan dan Pembinaan

BACA JUGA:Jelang Nataru 2025-2026, Pemerintah Beri Diskon Tiket Pesawat! Ini Rincian PPN yang Ditanggung Negara

Menutup pernyataannya, Budi mengajak semua pihak termasuk pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk tidak lagi memperkeruh suasana dengan saling menyalahkan.

Sebaliknya, ia berharap muncul gerakan pembinaan dan dialog terbuka agar hubungan di lingkungan sekolah bisa kembali kondusif dan produktif.

“Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan, tapi memperbaiki bersama,” pungkasnya.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya