Rp223,5 Triliun Dipindah ke Program MBG, PMII Bantul: Anggaran Pendidikan Terancam!

Rp223,5 Triliun Dipindah ke Program MBG, PMII Bantul: Anggaran Pendidikan Terancam!

Anggaran Pendidikan Dipangkas Demi MBG? PMII Bantul Ancam Gelar Aksi Besar---Dok. Istimewa

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Polemik pangkasan anggaran pendidikan untuk pembiayaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sorotan tajam dari Ketua Umum PC PMII Bantul, Yudi Sipriadi.

Isu anggaran pendidikan ini dinilai berpotensi mengancam masa depan generasi muda Indonesia.

Ketua Umum PC PMII Bantul, Yudi Sipriadi, secara tegas mengkritisi kebijakan realokasi anggaran pendidikan sebesar Rp223,5 triliun yang disebut dialihkan untuk mendukung Program Makanan Bergizi Gratis.

Menurutnya, angka tersebut sangat besar dan seharusnya dapat dimaksimalkan untuk memperkuat sektor pendidikan nasional.

BACA JUGA:PMII Bantul Desak Polisi Segera Proses Roy Suryo: Provokasi Tak Boleh Dibiarkan!

Yudi Sipriadi menilai pangkasan anggaran pendidikan untuk Program MBG dapat berdampak serius terhadap kesejahteraan guru honorer dan akses pendidikan anak muda.

Ia menegaskan bahwa jika dana ratusan triliun rupiah tersebut difokuskan untuk pendidikan, maka kualitas sekolah, kesejahteraan tenaga pendidik, dan pemerataan akses belajar bisa meningkat signifikan.

Program Makanan Bergizi Gratis sendiri memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Di satu sisi, program ini diyakini pemerintah mampu meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemenuhan gizi siswa.

Namun di sisi lain, kebijakan ini memunculkan kekhawatiran karena dinilai menggeser prioritas utama anggaran pendidikan.

Ketua Umum PC PMII Bantul tersebut menyebutkan bahwa implementasi Program MBG perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Mulai dari mekanisme seleksi sekolah penerima manfaat, kelayakan program, kualitas makanan yang disediakan, hingga transparansi distribusi anggaran MBG harus diaudit secara terbuka.

Jika evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis tidak segera dilakukan, PMII Bantul menyatakan akan terus menyuarakan kritik dan berpotensi melakukan eskalasi gerakan mahasiswa yang lebih besar. Sikap ini diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan anggaran pendidikan dan masa depan anak bangsa.

BACA JUGA:5 Rekomendasi Motor Listrik Jarak Tempuh Terjauh Awal Tahun 2026: Tembus 200 Km Sekali Cas!

Yudi Sipriadi juga menyoroti kondisi pendidikan di daerah terpencil. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak sekolah di pelosok negeri yang kondisi bangunannya memprihatinkan, bahkan hampir roboh. Selain itu, guru honorer masih menghadapi ketidakpastian kesejahteraan akibat keterbatasan anggaran pendidikan.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya