Deteksi Dini Stunting Pada Anak: Begini Aturan Emas Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah 2 Tahun

Deteksi Dini Stunting Pada Anak: Begini Aturan Emas Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah 2 Tahun

Deteksi Dini Stunting: Aturan Emas Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah 2 Tahun--istimewa

SEMARAKNEWS.CO.ID - Mendeteksi tanda awal stunting sering kali terlambat karena orang tua hanya fokus pada tinggi badan, padahal indikator paling vital adalah grafik pertumbuhan.

Ketua Satgas Stunting IDAI, Prof. Dr. dr. Damayanti R. Sjarif menegaskan bahwa berat badan anak yang tidak naik secara adekuat adalah sinyal bahaya pertama yang mewajibkan konsultasi medis segera.

Banyak kasus gizi buruk kronis baru disadari ketika perawakan anak sudah terlalu pendek, sehingga intervensi menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

BACA JUGA:Masih Jadi Perokok Aktif?? Berikut 5 Makan Pembersih Paru-Paru yang Harus Anda Konsumsi

Dampak stunting anak ternyata jauh lebih mengerikan daripada sekadar postur tubuh yang kecil. Kekurangan gizi kronis memicu penurunan hormon pertumbuhan yang menghentikan perkembangan fisik secara permanen.

Lebih fatal lagi, perkembangan otak anak akan terhambat drastis, menyebabkan gangguan kecerdasan yang tidak dapat pulih sepenuhnya. Selain itu, tubuh anak yang mengalami defisiensi nutrisi akan beradaptasi dengan menahan lemak sebagai mekanisme bertahan hidup.

Ironisnya, meski asupan makan sudah diperbaiki, tubuh tetap menyimpan lemak berlebih, meningkatkan risiko kesehatan balita jangka panjang seperti penyakit jantung koroner di masa dewasa.

Orang tua wajib memantau nutrisi anak dengan parameter kenaikan berat badan yang spesifik agar pencegahan stunting dapat dilakukan sedini mungkin.

BACA JUGA:PWI Sebut Maaf Hotman Paris Tak Tulus, Video Instagram Dinilai Tak Hapus Proses Hukum

Pada tiga bulan pertama kehidupan, kenaikan berat badan harus mencapai minimal 750 gram per bulan. Untuk bayi di bawah satu tahun, targetnya adalah 100 gram per minggu, sedangkan anak di atas satu tahun harus naik minimal 50 gram per minggu.

Jika angka ini tidak tercapai, jangan berasumsi itu hanya masalah selera makan, melainkan indikasi adanya penyakit penyerta atau manajemen laktasi yang bermasalah yang memerlukan diagnosis dokter spesialis.

Kabar baiknya, terapi nutrisi untuk anak stunting masih sangat efektif jika dilakukan sebelum usia dua tahun. Penanganan dini memungkinkan dokter memberikan suplemen protein tinggi disertai stimulasi otak untuk memaksimalkan potensi pemulihan.

BACA JUGA:Prabowo Klaim Kabinet Sudah Ngebut 21 Bulan, Minta Menteri Berhenti Cari Alasan

Namun, Prof. Damayanti mengingatkan bahwa hasil perbaikan tidak pernah mencapai 100 persen sempurna jika kerusakan sudah terjadi. Oleh karena itu, deteksi dini gangguan tumbuh kembang melalui pemantauan berat badan rutin adalah kunci emas untuk menyelamatkan masa depan anak dari dampak permanen stunting yang merugikan.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler