Prabowo Siaga Hadapi El Nino, Langit Dipaksa Hujan Demi Cegah RI Kembali Diselimuti Asap

Prabowo Siaga Hadapi El Nino, Langit Dipaksa Hujan Demi Cegah RI Kembali Diselimuti Asap

Lebih dari 50 orang tewas akibat gempa NTT magnitudo 7,7. Prabowo belum dipastikan datang, sementara sejumlah menteri telah dikirim ke NTT.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Pemerintah tampaknya tak ingin lagi mengulang cerita lama ketika kemarau datang, tanah mengering, lalu asap kebakaran hutan menyelimuti berbagai daerah. Presiden Prabowo Subianto pun memerintahkan seluruh kementerian dan lembaga bergerak lebih cepat menghadapi ancaman musim kemarau yang berbarengan dengan fenomena El Nino. Instruksi itu disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan pemerintah akan mengandalkan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu senjata utama menghadapi musim kering tahun ini. Strateginya bukan sekadar menunggu hujan turun, melainkan “memesan” hujan agar cadangan air tetap terjaga sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan.

“Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, lahan-lahan yang mudah terbakar akan dibasahi melalui modifikasi cuaca. Dalam rapat tadi, pembahasan mengenai modifikasi cuaca sangat diperkuat,” ujar Faisal, dikutip dari keterangan pers Sekretariat Presiden.

Faisal menjelaskan ada enam provinsi yang menjadi prioritas pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki lahan gambut yang rentan mengering dan mudah terbakar saat musim kemarau.

BACA JUGA:Pramono Minta Bentrokan Matraman Tak Dikaitkan Etnis, Tegaskan Jakarta Terbuka untuk Semua

Menurut dia, penyemaian awan akan dilakukan secara berkala agar lahan gambut tetap basah sehingga potensi munculnya kebakaran bisa ditekan sejak awal.

“Operasi modifikasi cuaca dilakukan secara berkala untuk menjenuhkan tanah gambut di wilayah tersebut agar tidak mudah terbakar. Kami juga melaksanakan modifikasi cuaca di Kepulauan Riau dan Aceh, serta beberapa daerah lain secara situasional, bergantung pada kondisi di lapangan,” katanya.

Operasi modifikasi cuaca tidak hanya diarahkan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah juga memanfaatkannya guna menambah pasokan air di berbagai waduk sebagai langkah mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau.

Program itu dijalankan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Air yang terkumpul di waduk nantinya diharapkan tetap mampu menopang kebutuhan pembangkit listrik tenaga air, irigasi pertanian, hingga pasokan air bersih masyarakat.

“Kami juga melakukan pengisian waduk-waduk di Indonesia. Kita memiliki sekitar 240 waduk. Memang tidak semuanya bisa diisi, tetapi kami berupaya agar sebanyak mungkin dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air, irigasi, maupun penyediaan air bersih,” ujar Faisal.

BACA JUGA:Prabowo Minta Danantara Masuk KSSK, Rosan Sebut Kini Ikut Pengambilan Keputusan

Ia menegaskan pendekatan tersebut merupakan perubahan strategi pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan. Fokus penanganan kini diarahkan pada pencegahan, bukan lagi sekadar bertindak setelah api telanjur membesar.

“Kita tidak hanya menunggu munculnya titik api, lalu memadamkannya dengan water bombing, penyemprotan oleh petugas pemadam, dan berbagai cara lainnya,” tutur Faisal.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya