Warga Main Hakim Sendiri, Nyawa Melayang Gara-Gara Ayam dan Motor, Negara Ke Mana?
Amnesty meminta pemerintah dan polisi bertindak tegas usai aksi main hakim sendiri di Tabanan dan Morowali menewaskan dua orang.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Tindakan main hakim sendiri kembali memakan korban jiwa. Dua peristiwa yang terjadi di Tabanan, Bali, dan Morowali, Sulawesi Tengah, dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm keras bahwa amarah massa semakin sering mengambil alih peran hukum. Amnesty International Indonesia menilai pemerintah tak boleh lagi menganggap gejala ini sebagai insiden biasa.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan maraknya aksi vigilantisme atau main hakim sendiri harus menjadi perhatian serius pemerintah, terutama aparat penegak hukum.
“Meningkatnya aksi vigilantisme atau main hakim sendiri di tengah masyarakat belakangan ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah, terutama penegak hukum,” kata Usman dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Usman, rentetan kejadian di Tabanan dan Morowali memperlihatkan betapa rapuhnya penghormatan terhadap hak hidup dan prinsip praduga tak bersalah. Di saat yang sama, praktik main hakim sendiri juga menyingkirkan proses hukum yang semestinya dijalankan secara adil.
Karena itu, Amnesty mendesak seluruh pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawaban, baik mereka yang melakukan kekerasan secara langsung maupun pihak yang lalai mencegah aksi tersebut, termasuk apabila terdapat unsur kelalaian dari aparat penegak hukum.
BACA JUGA:Prabowo Siaga Hadapi El Nino, Langit Dipaksa Hujan Demi Cegah RI Kembali Diselimuti Asap
“Pihak berwenang termasuk aparat kepolisian tidak boleh memberikan ruang toleransi sedikit pun terhadap aksi vigilantisme. Para pelaku pengeroyokan yang telah menghilangkan nyawa di Tabanan dan Morowali harus segera diproses secara hukum,” ujar Usman.
Kasus di Tabanan bermula ketika warga menangkap seorang pria berinisial KD yang dituduh mencuri dua ekor ayam pada Ahad, 26 Juli 2026. Bukannya diserahkan lebih dulu kepada aparat, KD justru dikeroyok hingga mengalami luka berat dan meninggal dunia di lokasi. Setelah itu, massa juga membakar sepeda motor milik korban.
Hingga kini, penyidik Polres Tabanan telah memeriksa 18 saksi dan menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengeroyokan tersebut.
Peristiwa serupa juga terjadi di Morowali. Seorang pria berinisial WS tewas setelah menjadi sasaran amukan massa pada Sabtu malam, 25 Juli 2026. Ia diduga hendak mencuri sepeda motor di sebuah pusat perbelanjaan. Polisi setempat sempat berupaya mengevakuasi WS, namun gagal karena lokasi telah dipenuhi massa yang lebih dulu menghakimi korban.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-