Kemarau Bikin Jawa Barat Kering Kerontang, Bekasi dan Bogor Menjerit Kekeringan Air

Kemarau Bikin Jawa Barat Kering Kerontang, Bekasi dan Bogor Menjerit Kekeringan Air

Kemarau panjang memicu krisis air bersih dan kebakaran lahan di Jawa Barat. BPBD menyalurkan jutaan liter air, sementara Bogor dan Bekasi terdampak parah.-Foto: BPBD Bekasi-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Kemarau yang terus memanjang mulai memperlihatkan dampaknya secara nyata di Jawa Barat. Hari-hari tanpa hujan memicu krisis air bersih di sejumlah daerah penyangga Jakarta, terutama Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi. Di tengah kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat terus menggelontorkan bantuan air bersih demi memenuhi kebutuhan warga.

Kepala BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkunnya mengatakan Kabupaten Bekasi menjadi wilayah dengan distribusi bantuan air bersih terbesar sejauh ini.

“Sebanyak 2,2 juta liter air telah disalurkan dengan jumlah warga terdampak kekeringan mencapai sekitar 27 ribu orang,” ujar Teten kepada Tempo, Rabu, 29 Juli 2026.

Menghadapi ancaman musim kering yang diperkirakan makin berat akibat fenomena El Nino, BPBD Jawa Barat telah menetapkan status siaga darurat sejak 1 Juli hingga akhir September 2026. Langkah itu diambil mengikuti proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, kami sudah mendistribusikan 4,3 juta liter air bersih kepada masyarakat,” katanya.

BACA JUGA:BEM Unair Sentil Rezim di Depan Ribuan Maba! Poster Mahasiswa Hilang 1998 Dibentang

Pasokan air bersih disalurkan menggunakan mobil tangki milik BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran. Air yang dibagikan secara cuma-cuma tersebut berasal dari sumber mata air maupun perusahaan daerah air minum.

Di Kabupaten Bandung, mekanisme penyaluran bantuan dilakukan secara berjenjang. Warga terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada pemerintah desa. Laporan kemudian diteruskan ke kecamatan, dilanjutkan ke dasbor pimpinan daerah, sebelum bantuan air dikirim sesuai antrean permintaan yang masuk.

Data BPBD Jawa Barat menunjukkan kekeringan telah melanda 207 desa dan kelurahan di 95 kecamatan. Dampaknya dirasakan sekitar 214 ribu jiwa. Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, mencapai sekitar 108 ribu orang.

“Ketika kemarau berlangsung selama beberapa minggu, masyarakat mulai mengalami kekeringan air,” ujar Teten.

Belajar dari peta kekeringan pada 2023, BPBD Jawa Barat kini mendorong pembangunan jaringan pipa air bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah. Menurut Teten, langkah itu jauh lebih efisien dibandingkan terus mengandalkan distribusi menggunakan mobil tangki yang membutuhkan biaya operasional tinggi, terutama akibat mahalnya bahan bakar solar.

BACA JUGA: Komisi Yudisial Temukan Indikasi Pelanggaran Etik Hakim Perkara Nadiem Makarim

Selain itu, pemerintah juga berupaya melakukan pengeboran untuk mencari sumber air baru sebagai solusi jangka menengah.

“Diperkirakan Agustus menjadi puncak musim kemarau. Kami terus mengupayakan berbagai langkah mitigasi kekeringan,” ucapnya.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler