MBG Makan Korban Lagi! BGN Bekukan Dapur SPPG Semarang, Dugaan Masak Terlalu Cepat Jadi Biang Kerok

MBG Makan Korban Lagi! BGN Bekukan Dapur SPPG Semarang, Dugaan Masak Terlalu Cepat Jadi Biang Kerok

Aplikasi rating MBG disiapkan BGN untuk menilai makanan dan layanan. DPR dan peneliti mengingatkan pentingnya tindak lanjut dan pengawasan.-Foto: NU TV lumah-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diterpa persoalan serius. Kali ini, dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Kota Semarang membuat Badan Gizi Nasional (BGN) langsung menjatuhkan sanksi tegas. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi dibekukan sementara sembari menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan sanksi penghentian sementara tidak hanya diberikan kepada SPPG, tetapi juga menyasar mitra, yayasan, hingga koordinator kecamatan yang terlibat dalam rantai pelaksanaan program tersebut.

“Jadi kami memberhentikan sementara. Di dalamnya ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, dan pihak-pihak terkait yang kami beri sanksi, termasuk koordinator kecamatan dan pihak di atasnya juga kami berikan peringatan,” kata Sudaryono saat menjenguk korban dugaan keracunan MBG di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Dalam kunjungan itu, Sudaryono mendatangi tiga rumah sakit yang menangani para korban, yakni RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum.

Langkah tersebut dilakukan setelah Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG pada Jumat, 31 Juli 2026. Jumlah itu terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang. Sebagian besar korban mengeluhkan gejala pusing, mual, muntah, dan diare.

BACA JUGA:Kemarau Bikin Jawa Barat Kering Kerontang, Bekasi dan Bogor Menjerit Kekeringan Air

Meski jumlah korban cukup besar, Sudaryono mengatakan hanya sebagian kecil yang membutuhkan perawatan intensif.

“Dari sekitar 700 orang itu, yang menjalani perawatan hanya 13 orang. Ada yang dirawat di rumah sakit dan ada juga di puskesmas. Alhamdulillah, tadi sudah kami jenguk dan kondisi mereka sudah membaik,” ujarnya.

Hasil investigasi sementara mengarah pada dugaan adanya persoalan dalam proses pengolahan makanan. BGN mencurigai beberapa bahan makanan masih perlu diuji di laboratorium, sementara waktu memasak diduga dilakukan terlalu jauh sebelum makanan dibagikan kepada para siswa.

Sudaryono menyebut laporan awal mengindikasikan daun singkong dan bumbu rendang sebagai bahan yang patut dicurigai. Namun, ia menegaskan penyebab pasti baru bisa dipastikan setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

“Kami membutuhkan waktu paling sedikit lima hari kerja hingga tujuh hari untuk memperoleh hasilnya. Setelah itu kami bisa melihat hasil pemeriksaan laboratorium. Tetapi sejauh ini hasil investigasi kami mengarah pada bahan-bahan tersebut dan diduga makanan dimasak terlalu jauh sebelum waktu penyajian,” katanya.

BACA JUGA:Hyundai Pamer Mobil Neira, TKDN Sudah Capai 80 Persen

Sebagai langkah pencegahan, BGN kini mempercepat penerapan sistem digital yang akan mencatat seluruh proses produksi makanan. Mulai dari waktu memasak, menu yang disiapkan, hingga penggunaan bahan baku dan bumbu akan terdokumentasi sehingga lebih mudah diawasi.

“Kami sudah menyiapkan sistemnya. Sekarang kami sedang mendorong seluruh dapur, termasuk koordinator kecamatan dan pihak terkait lainnya, agar seluruh pekerjaan menggunakan sistem tersebut,” ujar Sudaryono.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler