Ulama Sepuh PBNU Mulai Gerah, Muktamar ke-35 Disorot Gegara Dugaan Main Belakang
Ulama sepuh PBNU soroti dugaan cara tak terpuji jelang Muktamar ke-35 dan meminta AHWA dijaga dari transaksi kepentingan.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, para ulama sepuh PBNU mulai buka suara. Dewan Mutasyar PBNU yang dipimpin Ma’ruf Amin menggelar pertemuan dengan sejumlah ulama senior di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh sepuh NU, mulai dari mantan Rais Syuriah Ahmad Mustofa Bisri hingga mantan Ketua Umum PBNU Said Aqiel Siradj. Agenda pertemuan bukan sekadar temu kangen para kiai sepuh, melainkan membahas situasi yang berkembang menjelang hajatan besar organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Ma’ruf Amin menyebut ada sejumlah persoalan yang membuat para ulama merasa prihatin. Salah satunya adalah dugaan penggunaan cara-cara yang tidak terpuji demi memenangkan pertarungan dalam Muktamar ke-35.
“Ada isu-isu yang sangat mengkhawatirkan yang ditandai dengan adanya cara-cara tidak terpuji untuk memenangkan muktamar,” kata Ma’ruf seusai pertemuan, Kamis.
Ma’ruf memang tidak mengurai secara detail apa saja persoalan yang membuat para ulama sepuh resah. Namun, ia menyebut salah satu perhatian mereka berkaitan dengan dugaan upaya memengaruhi Ahlul Halli wal-Aqdi atau AHWA.
BACA JUGA:1,49 Juta Penerima Bansos Ditangguhkan, Transaksi Judol Satu Kartu Keluarga Disorot Pemerintah
Dalam struktur PBNU, AHWA bukan sekadar istilah Arab yang terdengar sakral ketika disebut dalam forum organisasi. Berdasarkan AD/ART PBNU, AHWA memiliki tugas penting untuk memilih dan menetapkan Rais A’am.
Orang-orang yang masuk dalam AHWA dipilih melalui mekanisme musyawarah oleh para utusan pengurus wilayah dan pengurus cabang dalam muktamar. Karena posisinya menentukan arah kepemimpinan tertinggi syuriah NU, para ulama sepuh menganggap proses pemilihannya tidak semestinya diseret ke dalam transaksi kepentingan.
Menurut Ma’ruf, anggota AHWA harus dipilih berdasarkan hati nurani yang bersih. Sebab, merekalah yang nantinya bertugas memilih figur terbaik untuk menentukan siapa yang layak menjadi Rais A’am PBNU.
“Karena itu para ulama mengeluarkan seruan moral agar muktamar bisa berjalan sesuai dengan hati nurani dan akhlak yang mulia,” ujar mantan Wakil Presiden tersebut.
Para ulama sepuh kemudian menyampaikan sejumlah seruan moral agar Muktamar ke-35 tetap berjalan dengan menjunjung tinggi adab, akhlak, nilai-nilai keulamaan, serta tradisi luhur NU.
BACA JUGA:Rektor Unsoed Diciduk KPK, Kampus Elite Jadi Panggung Baru Dugaan Suap Mahasiswa
Mereka juga meminta kedaulatan para muktamirin dihormati. Dengan kata lain, muktamar jangan sampai berubah menjadi pasar kepentingan, tempat transaksi politik dan kekuasaan dibungkus dengan alasan apa pun.
Sorotan berikutnya diarahkan kepada AHWA. Para ulama meminta AHWA tetap diposisikan sebagai makam keulamaan, bukan dijadikan instrumen untuk berebut kekuasaan. Karena itu, mereka mengusulkan perubahan mekanisme pemilihan AHWA agar kemerdekaan para muktamirin tetap terjaga.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-