Kemarau Makin Ganas, Jusuf Kalla Minta Masjid Ramai-Ramai Salat Minta Hujan

Kemarau Makin Ganas, Jusuf Kalla Minta Masjid Ramai-Ramai Salat Minta Hujan

Kemarau panjang picu kekeringan dan karhutla. Jusuf Kalla meminta masjid di Indonesia menggelar Salat Istisqa hingga awal September 2026.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Indonesia sedang menghadapi musim kemarau yang tak kunjung selesai. Tanah mengering, air makin sulit dicari, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan ikut membesar. Di tengah kondisi tersebut, Ketua Umum Dewan Masjidi Indonesia (DMI) Jusuf Kalla meminta masjid-masjid di seluruh Indonesia menggelar Salat Istisqa alias salat meminta hujan.

Seruan itu disampaikan Kalla melalui surat Pengurus Pusat DMI kepada seluruh pimpinan wilayah, daerah, cabang dan ranting DMI pada Jumat, 21 Agustus 2026. Surat tersebut juga ditujukan kepada pengurus masjid atau DKM, takmir, hingga seluruh jamaah masjid di Indonesia.

Dalam surat tersebut, Kalla menyoroti kemarau panjang yang membuat suhu lingkungan meningkat dan kekeringan meluas. Kondisi itu kemudian berdampak pada krisis air sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

“Periode musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan peningkatan suhu lingkungan, menyebabkan kekeringan, menimbulkan krisis air dan memicu kebakaran hutan yang meluas di beberapa wilayah Indonesia,” tulis Kalla dalam surat tersebut.

DMI meminta para khatib Salat Istisqa mengajak umat untuk melakukan introspeksi keagamaan dengan memperbanyak taubat dan istigfar. Doa juga diminta dipanjatkan dengan sungguh-sungguh agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan berbagai malapetaka.

BACA JUGA:Prabowo Turun ke Kalimantan Cek Karhutla: Saya Datang Lihat Keadaan Nyata

“Meminta ampun atas segala dosa dengan bertaubat, memperbanyak istigfar, dan berdoa sungguh-sungguh agar Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan seluruh bangsa ini,” ujar Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 tersebut.

DMI menyarankan Salat Istisqa digelar secara serentak di berbagai masjid selama Agustus hingga awal September 2026. Pelaksanaannya tidak harus di dalam bangunan masjid. Lapangan terbuka maupun halaman masjid juga bisa digunakan.

Di sisi lain, persoalan kemarau panjang ini bukan sekadar perkara langit yang belum menurunkan hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Agustus hingga September.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani bahkan meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan. Kondisinya diperkirakan bisa lebih parah dibandingkan kemarau pada umumnya.

Dengan kata lain, ketika sebagian masyarakat sibuk menunggu hujan turun, pemerintah juga harus memastikan persoalan kekeringan tidak berhenti pada urusan berdoa. Sebab krisis air, karhutla, hingga dampaknya terhadap kehidupan warga tetap membutuhkan penanganan nyata di lapangan.

BACA JUGA:83 Nyawa Melayang Gegara Gempa NTT, Pengungsi Tembus 110 Ribu, Rumah Rusak Nyaris 45 Ribu

BMKG memperkirakan kondisi akan mulai berubah setelah melewati puncak musim kemarau. Sejumlah wilayah Indonesia diprediksi memasuki periode dengan curah hujan lebih tinggi pada Oktober hingga November.

“Curah hujan yang lebih tinggi muncul di beberapa wilayah,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Musim Kemarau yang dipantau secara virtual pada Kamis, 30 Juli 2026.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler