Kabut Asap Karhutla Merebak, Tercatat dalam Sepekan 515 Masyarakat Terdampak Kasus ISPA

Kabut Asap Karhutla Merebak, Tercatat dalam Sepekan 515 Masyarakat Terdampak Kasus ISPA

Polri menangani 96 laporan karhutla terkait korporasi. Sebanyak 90 perkara naik penyidikan, sementara 5 perkara dihentikan karena alasan bukti.-Foto: Dok. KLH-

SEMERAKNEWS.CO.ID - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Kalimantan mulai memberi tekanan terhadap kesehatan warga di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan setempat mencatat 515 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dalam satu pekan.

Angka kasus ISPA Kobar tersebut terekam dalam pemantauan minggu ke-32 melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau SKDR. Peningkatan itu menjadi perhatian karena muncul ketika kabut asap dari karhutla menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotawaringin Barat, dr. Jhonferi Sidabalok, menyebut tren ISPA bergerak fluktuatif. Namun, kenaikan terlihat cukup nyata pada rentang minggu ke-28 hingga minggu ke-32.

BACA JUGA:Demo DPR Hari Ini Ganggu Layanan Transjakarta, Dua Rute Palmerah Dihentikan Sementara

Menurut Jhonferi, 515 kasus ISPA yang tercatat dalam satu pekan menunjukkan eskalasi yang perlu terus dipantau. Dinkes tidak hanya melihat angka terbaru, tetapi juga mengikuti perubahan grafik dari pekan-pekan sebelumnya untuk membaca perkembangan dampak karhutla Kalimantan.

Berdasarkan pemetaan fasilitas kesehatan, beban kumulatif tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Sungai Rangit dengan 1.933 kasus atau 16,43 persen. Puskesmas Madurejo menyusul dengan 1.169 kasus atau 9,94 persen, sedangkan Puskesmas Kumai mencatat 1.152 kasus atau 9,79 persen.

Dinkes Kotawaringin Barat juga mencatat 914 kasus di wilayah Puskesmas Karang Mulya dan 905 kasus di Puskesmas Mandawai. Data tersebut menggambarkan persebaran kasus ISPA di sejumlah fasilitas kesehatan, bukan hanya di satu titik terdampak kabut asap.

BACA JUGA:Gegara Demo 27 Agustus di Jakarta, Menkopolkam Ungkap Alasan Jalan Direkayasa

Pemantauan kesehatan masyarakat tetap diperlukan selama karhutla Kalimantan berlangsung. Data SKDR menjadi dasar bagi petugas untuk melihat perubahan kasus dan menilai kebutuhan respons kesehatan, terutama ketika kualitas udara berpotensi memburuk akibat asap kebakaran.

Dinkes Kobar menggunakan pemantauan tersebut untuk melihat wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar. Kenaikan pada beberapa pekan berurutan menjadi sinyal bahwa dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan jarak warga dari titik kebakaran, tetapi juga perlu dibaca melalui laporan fasilitas kesehatan yang menerima pasien.

BACA JUGA:Pemerintah Singapura Ubah Skema Bantuan Anak, Nilainya Hampir Rp1 Miliar per Anak

Data itu menjadi bahan evaluasi. Dengan cara itu, perubahan kasus di tingkat daerah dapat dipantau secara lebih terukur dan menjadi bahan evaluasi layanan kesehatan setempat. Pemantauan dilakukan untuk membaca perubahan kasus di tiap wilayah.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler