Bongkar Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang

Bongkar Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang

Muktamar Jombang menjadi arena perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Simak rekam jejak Kikin, Yahya Cholil Staquf, dan Nasaruddin Umar.-Foto: Antara-

Kedekatan tersebut kemudian kembali menjadi sorotan di internal PBNU. Jajaran Syuriah menilai Yahya memiliki kedekatan dengan kelompok pro-Israel, sementara Indonesia dan PBNU mendukung kemerdekaan Palestina.

Sorotan itu kembali muncul ketika Yahya mengundang akademikus Stanford University Peter Berkowitz ke Akademi Kepemimpinan Nasional NU. Berkowitz dikenal sebagai akademikus yang mendukung Israel.

Di tengah duel Kikin dan Yahya, nama Nasaruddin Umar sempat menjadi alternatif. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal itu sebelumnya disebut-sebut bakal ikut bertarung dalam Muktamar Jombang.

Khalilur Abdullah Sahlawiy, anggota NU yang dekat dengan Nasaruddin, mengatakan pernah menemui Nasaruddin setelah menyampaikan dukungan agar sang menteri bersedia maju sebagai calon ketua umum. Pertemuan itu berlangsung pada pertengahan Juli 2026.

“Nasaruddin tak marah, hanya diam yang bisa diartikan setuju,” ujar Khalilur pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Khalilur mengenal Nasaruddin sejak 1994 ketika masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Jakarta, yang kini menjadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat itu Nasaruddin pernah menjabat Pembantu Rektor III.

Hubungan tersebut membuat Khalilur ikut bergerak mendorong Nasaruddin menjadi PBNU-1. Ia juga menyebut Nasaruddin memiliki hubungan lama dengan Prabowo Subianto sejak era Orde Baru.

Saat masih aktif sebagai perwira militer, Prabowo menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Penerima Beasiswa Supersemar. Nasaruddin merupakan salah satu penerima beasiswa tersebut dan kemudian masuk ke organisasi itu.

“Jadi Nasaruddin dan Presiden Prabowo sudah mengenal sejak dulu,” katanya.

Namun nama Nasaruddin akhirnya keluar dari daftar pemain. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari bursa Ketua Umum PBNU melalui rekaman video.

Nasaruddin mengatakan ingin kembali berkonsentrasi menjalankan tugasnya sebagai Menteri Agama. “Saya minta maaf kepada teman-teman dari berbagai daerah yang mungkin telah mengimajinasikan saya untuk memimpin PBNU,” ujarnya.

Dengan mundurnya Nasaruddin, arena Muktamar Ke-35 PBNU kini mengarah pada pertarungan Kikin dan Yahya. Satu membawa dukungan PWNU Jawa Timur dan garis keturunan pendiri NU, sementara satu lainnya datang sebagai petahana yang menawarkan rekam jejak transformasi tata kelola organisasi.

Di tengah keduanya, ada warisan persoalan yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan warga NU, mulai dari konflik elite, transparansi anggaran, relasi dengan Israel hingga tambang batu bara puluhan ribu hektare. Muktamar kali ini pun tampaknya tak cuma soal siapa yang paling layak duduk di kursi ketua umum, tetapi juga siapa yang mampu meyakinkan nahdliyin bahwa organisasi sebesar NU tidak akan kembali menjadi arena rebutan kepentingan.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya