Bongkar Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang

Bongkar Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang

Muktamar Jombang menjadi arena perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Simak rekam jejak Kikin, Yahya Cholil Staquf, dan Nasaruddin Umar.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Pertarungan menuju Muktamar Ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mulai mengerucut. Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin muncul sebagai penantang Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Sementara Menteri Agama Nasaruddin Umar yang sempat digadang-gadang ikut bertarung akhirnya memilih mundur dari gelanggang.

Kemunculan Kikin sebagai kandidat tak bisa dilepaskan dari pertemuannya dengan Muhammad Lukman Edy di Surabaya pada pertengahan Juli 2026. Saat itu Kikin, yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, membuka acara pendidikan menengah kepemimpinan NU untuk konsolidasi pengurus.

Setelah acara bubar, Lukman dan Kikin sempat berbincang. Keduanya membahas perkembangan menuju Muktamar PBNU. “Kami berbagi informasi mengenai perkembangan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” ujar Lukman, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal periode 2007-2009, ketika dihubungi wartawan pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Selasa, 21 Juli 2026, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menyatakan dukungan kepada Kikin. Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Abdul Matin Djawahir mengatakan keputusan itu diambil setelah pengurus menggelar rapat harian.

“Beliau menyatakan siap,” kata Abdul Matin.

Kikin menerima mandat tersebut. “Bila memang sudah ditugasi, insyaallah saya siap,” tuturnya.

Dukungan PWNU Jawa Timur membuat nama Kikin resmi masuk dalam bursa perebutan kursi nomor satu di PBNU. Ia bukan nama sembarangan di lingkungan pesantren. Kikin merupakan keturunan Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ayahnya, Mahfudz Azwar, yang meninggal pada 1999, merupakan pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel di Jombang.

Kikin sendiri pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Pengalamannya juga tak berhenti di dunia pesantren. Selain mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, ia pernah berkecimpung dalam bisnis perkapalan dan energi.

BACA JUGA:Muktamar NU Bikin Plot Twist, 401 Suara Ubah Cara Pilih Ketum PBNU Lewat AHWA

“Ia terakhir berkecimpung di bisnis minyak dan gas bumi,” ujar Lukman.

Kini Kikin harus berhadapan dengan Yahya Cholil Staquf yang ingin mempertahankan kursinya. Yahya bahkan merasa langkahnya menuju periode berikutnya lebih ringan dibanding ketika menghadapi Muktamar Lampung lima tahun lalu.

“Saya tak perlu capek meyakinkan orang karena orang merasakan pekerjaan kami selama ini, yakni transformasi tata kelola organisasi,” kata Yahya, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Pernyataan Yahya itu datang ketika periode kepemimpinannya justru dibayangi berbagai turbulensi internal. Dua pengurus PBNU mengatakan pengelolaan organisasi di bawah Yahya sempat diterpa persoalan, terutama terkait pengelolaan tambang dan transparansi anggaran. Konflik tersebut memuncak pada akhir 2025.

Ketika itu elite PBNU bahkan saling mencopot. Rais Am Miftachul Akhyar sempat memberhentikan Yahya dari jabatan ketua umum. Di kubu lain, Yahya mencopot Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya