Gawat! Gas SO2 Anak Krakatau Bergerak ke Daratan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai Warga

Gawat! Gas SO2 Anak Krakatau Bergerak ke Daratan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai Warga

Kilat Petir Vulkanik: Aktivitas Gunung Ruang Terus Meningkat-@infosulut-Instagram

SEMERAKNEWS.CO.ID - Sebaran sulfur dioksida (SO2) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak menuju Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah. Pemantauan citra satelit Windy menunjukkan area konsentrasi gas berwarna merah pekat meluas, dengan arah angin dominan menuju timur laut.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Dalam situasi tersebut, pergerakan material vulkanik perlu dipantau karena arah dan ketinggiannya dapat berubah mengikuti dinamika erupsi serta kondisi atmosfer.

BACA JUGA:PJJ Mulai Berlaku 7 September Dampak Erupsi Anak Krakatau, Program MBG Berhenti Menunggu Kondisi Daerah

Gas SO2 dari erupsi merupakan gas vulkanik yang tidak berwarna, tetapi memiliki bau tajam. Gas ini dilepaskan dalam jumlah besar ketika magma bergerak naik ke permukaan. Karena tidak selalu terlihat oleh mata, masyarakat tidak dapat menjadikan kejernihan udara sebagai satu-satunya penanda keamanan.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyampaikan bahwa sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki menuju timur laut hingga selatan. Pada ketinggian 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Pembaruan SIGMET BMKG juga mencatat pergerakan pada ketinggian berbeda dengan arah timur dan barat.

Risiko utama paparan sulfur dioksida berada pada mata dan sistem pernapasan. Dikutip dari Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, SO2 dapat mengiritasi selaput lendir hidung, kerongkongan, dan paru-paru. Tingkat dampaknya dipengaruhi kadar gas serta kondisi tubuh orang yang terpapar.

BACA JUGA:Gempa NTT Belum Usai, 114 Murid Belajar di Tenda: Sekolah Retak, Trauma Mengintai

Pada konsentrasi tinggi, gas tersebut dapat mengiritasi paru-paru dan membuat seseorang kesulitan bernapas. Sumber yang sama juga menyebut paparan SO2 berpotensi mengganggu ekosistem dan makhluk hidup di dalamnya. Karena itu, warga perlu mengikuti pembaruan resmi tentang arah sebaran abu dan gas vulkanik.

Masyarakat yang mencium bau menyengat atau mengalami keluhan pernapasan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mencari informasi dari kanal resmi pemerintah. Keluhan berat, terutama sesak napas, memerlukan pertolongan medis segera. Informasi mengenai kualitas udara dan perkembangan erupsi perlu menjadi dasar sebelum warga bepergian.

BACA JUGA:Gunung Sinabung Status Siaga, Aktivitas Warga Tetap Berjalan di Tengah Ancaman Erupsi

Pemantauan arah angin menjadi penting karena gas dan abu dapat bergerak pada ketinggian berbeda. Warga di wilayah yang dilintasi sebaran sebaiknya tidak mendekati sumber erupsi, membatasi paparan, serta menyiapkan akses menuju fasilitas kesehatan. Langkah pencegahan perlu dilakukan sebelum muncul keluhan yang lebih berat.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler