Asap Karhutla Sudah Ekspor ke Malaysia, 7.555 Titik Panas Masih Mengancam Indonesia
Indonesia mengerahkan 60 ribu personel dan 48 helikopter serta pesawat untuk menangani karhutla. Malaysia menawarkan bantuan saat asap melintasi batas.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menjadi persoalan diplomatik dengan negara tetangga. Setelah asap melintasi perbatasan hingga Malaysia dan Singapura, pemerintah Indonesia kini berkomunikasi dengan Kuala Lumpur untuk membahas penanganan kebakaran yang belum juga tuntas.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohammad Hassan. Pembicaraan tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada pekan ini.
Dalam komunikasi itu, Arrmanatha menjelaskan berbagai upaya pemerintah Indonesia untuk memadamkan api, termasuk pengerahan puluhan ribu personel dan armada udara. Namun, besarnya sumber daya yang dikerahkan belum serta-merta membuat kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan bisa dikendalikan sepenuhnya.
“Kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia, seperti menerjunkan lebih dari 60 ribu personel, menerjunkan 48 helikopter dan pesawat untuk water bombing, dan pengalihan cuaca,” kata Arrmanatha, dikutip dari Antara, Ahad, 11 Oktober 2026.
Pemerintah kini berharap perubahan cuaca membantu meredakan kebakaran. Arrmanatha mengakui karhutla di Sumatera dan Kalimantan masih menjadi tantangan berat, sementara potensi hujan di wilayah terdampak diharapkan dapat membantu pemadaman.
“Harapan kita kebakaran hutan dan lahan segera reda, terlebih ada perkiraan cuaca bahwa hujan akan mulai turun,” tuturnya.
Persoalannya, kabut asap telah melintasi batas negara selama hampir tiga bulan terakhir. Dampaknya tidak lagi terbatas pada masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dirasakan negara tetangga. Malaysia bahkan telah menyampaikan kesediaannya membantu Indonesia menghadapi persoalan tersebut.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Anwar Ibrahim menghubungi Prabowo untuk membahas kabut asap yang mencapai wilayah Malaysia. Dalam pernyataannya melalui akun Instagram, Anwar menegaskan kesiapan negaranya untuk bekerja sama membantu penanganan kebakaran.
BACA JUGA:Danantara Kejar Rilis Laporan Keuangan Oktober, BPK Masih Bongkar Isi Dapur BUMN
“Kita menyatakan sejak beberapa minggu lalu, kesediaan kita memberikan apa pun kerja sama,” ucap Anwar melalui akun Instagram miliknya, @anwaribrahim_my.
Malaysia juga mendorong penanganan masalah ini melalui jalur regional. Anwar menginstruksikan Menteri Luar Negeri Malaysia berkoordinasi dengan Sekretariat ASEAN untuk menggelar pertemuan tingkat menteri lingkungan hidup negara-negara ASEAN yang secara khusus membahas kabut asap lintas batas.
Dorongan tersebut memperlihatkan bahwa karhutla Indonesia bukan semata persoalan pemadaman api di dalam negeri. Ketika asap bergerak melintasi perbatasan, dampaknya ikut menyangkut kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan hubungan antarnegara di kawasan.
Sementara itu, data di lapangan menunjukkan pekerjaan rumah pemerintah masih besar. Dasbor penanganan karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga 9 Oktober 2026 mencatat 7.555 titik panas atau hotspot dan 196 titik kebakaran atau fire spot di enam provinsi prioritas.
Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dalam periode 24 jam terakhir yang dilaporkan, luas lahan terbakar di wilayah-wilayah tersebut mencapai 706,19 hektare.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-