Digempur Bertahun-tahun, Houthi Tetap Garang dan Bikin Musuh Ketar-ketir
Houthi bertahan di tengah serangan AS dan Arab Saudi berkat persenjataan rudal, drone, dukungan Iran, dan kondisi politik Yaman.-Foto: Reuters-
Dukungan tersebut tidak selalu berbentuk pengiriman senjata utuh. Laporan Conflict Armament Research pada Mei 2026 mencatat perubahan pola dukungan Iran, yang disebut semakin mengandalkan pengiriman komponen untuk dirakit oleh kelompok mitranya, sekaligus berbagi teknologi rudal yang lebih maju.
BACA JUGA:Erick Thohir Ungkap Rekor Baru MotoGP Mandalika, Penonton Naik 12,5 Persen dari Tahun Lalu
Pola tersebut dapat mempersulit upaya melumpuhkan kemampuan militer Houthi. Menghancurkan satu fasilitas atau menyita satu pengiriman senjata belum tentu menghentikan produksi apabila komponen dapat dipasok melalui jalur lain dan dirakit di lokasi berbeda.
Medan Yaman dan kelemahan lawan
Persenjataan canggih bukan satu-satunya alasan Houthi mampu bertahan. Geografi Yaman yang memiliki wilayah pegunungan luas juga memberi tantangan tersendiri bagi operasi militer lawan.
Arab Saudi melancarkan kampanye serangan udara selama bertahun-tahun sejak 2015. Namun, serangan tersebut tidak berhasil mendorong Houthi keluar dari seluruh wilayah yang mereka kuasai. Pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok separatis di wilayah selatan juga menghadapi kesulitan untuk membentuk kekuatan yang solid dalam melawan mereka.
Amerika Serikat dan Inggris kemudian melancarkan serangan terhadap sasaran Houthi sejak Januari 2024. Pada 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan kampanye udara yang lebih intensif. Seorang pejabat militer AS ketika itu menyebut sekitar 2.000 munisi telah dijatuhkan ke lebih dari 1.000 sasaran.
Serangan udara tersebut menimbulkan kerugian militer bagi Houthi, tetapi tidak serta-merta menghapus kemampuan mereka melancarkan serangan balasan. Di sisi lain, operasi militer AS juga menghadapi kerugian dan risiko operasional. Houthi dilaporkan menghancurkan tujuh drone MQ-9 Reaper milik AS, sedangkan sebuah jet tempur F/A-18 pernah tergelincir dari kapal induk.
Thomas Juneau, profesor hubungan internasional di University of Ottawa, menilai dukungan Iran hanya menjelaskan sebagian dari kekuatan Houthi. Faktor lainnya adalah kelemahan pihak yang mereka hadapi.
Menurut Juneau, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terpecah, lemah, tidak bersatu, dan korup. Kondisi tersebut memberi ruang bagi Houthi untuk memperluas pengaruh serta memanfaatkan perselisihan di antara lawan-lawannya.
Dengan kata lain, kekuatan Houthi tidak hanya lahir dari rudal dan drone. Fragmentasi politik di Yaman ikut membuat kelompok tersebut lebih sulit dikalahkan melalui pendekatan militer semata.
Persenjataan kuat, tetapi bukan tanpa batas
Meski mampu menjangkau sasaran jauh, Houthi tetap menghadapi keterbatasan. Al Jazeera melaporkan jumlah persediaan rudal kelompok tersebut tidak diketahui secara pasti. Ketidakpastian ini membuat kemampuan mereka untuk mempertahankan serangan dalam skala besar sulit dihitung secara akurat.
Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, memperkirakan Houthi kemungkinan hanya memiliki persediaan rudal balistik jarak pendek dalam jumlah terbatas. Karena itu, kelompok tersebut dinilai tidak selalu mampu melancarkan serangan berskala besar secara bersamaan dengan mengerahkan banyak rudal dan drone.
BACA JUGA:Pramono Beberkan Progres 19 Sekolah Dengan Anggaran Rp876,79 Miliar: Tinggal Kurang dari Satu Persen
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-