Digempur Bertahun-tahun, Houthi Tetap Garang dan Bikin Musuh Ketar-ketir

Digempur Bertahun-tahun, Houthi Tetap Garang dan Bikin Musuh Ketar-ketir

Houthi bertahan di tengah serangan AS dan Arab Saudi berkat persenjataan rudal, drone, dukungan Iran, dan kondisi politik Yaman.-Foto: Reuters-

JAKARTA, Semaraknews.co.id  — Bertahun-tahun digempur serangan udara oleh Arab Saudi, Amerika Serikat, Inggris, hingga Israel, kelompok bersenjata Houthi di Yaman masih mampu mempertahankan kekuatan militernya. Mereka bukan cuma bertahan, melainkan juga terus mengembangkan persenjataan yang dapat menjangkau sasaran jauh di luar wilayah kekuasaannya.

Kekuatan Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, bertumpu pada kombinasi jumlah personel yang besar, persenjataan rudal dan drone, serta kondisi politik Yaman yang terpecah. Kombinasi itu membuat upaya militer untuk melumpuhkan kelompok tersebut berkali-kali menemui hambatan.

Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Houthi dilaporkan menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Laporan yang menjadi bahan berita ini menyebut serangan tersebut menewaskan 12 orang. Namun, angka korban dan detail serangan itu perlu diverifikasi melalui sumber independen sebelum dipublikasikan.

Besarnya kekuatan personel menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Houthi bertahan. Menurut laporan BBC, kelompok tersebut diperkirakan telah merekrut hingga 350.000 pejuang pada 2024. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan sekitar 30.000 orang pada 2015, ketika Arab Saudi mulai melakukan intervensi militer dalam perang saudara Yaman.

BACA JUGA:Dua Tahun Prabowo-Gibran, Harga Pangan Mencekik, Lapangan Kerja Masih Bikin Waswas

Pertumbuhan personel tersebut berjalan beriringan dengan perkembangan persenjataan. Associated Press melaporkan Houthi memiliki beragam rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang sejumlah modelnya memiliki kemiripan dengan persenjataan Iran. Kelompok itu juga mengembangkan kemampuan menyerang kapal melalui rudal antikapal dan drone laut di Laut Merah, jalur perdagangan internasional yang strategis.

Rudal jarak jauh dan teknologi Iran

Dalam laporan Al Jazeera, salah satu persenjataan yang dikaitkan dengan Houthi adalah rudal balistik Palestine-2, yang diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Rudal tersebut disebut menggunakan bahan bakar padat dan sistem dua tahap, serta diklaim memiliki kemampuan hipersonik.

Houthi juga memiliki rudal Toufan yang disebut menyerupai rudal Ghadr buatan Iran, dengan perkiraan jangkauan 1.350 hingga 1.950 kilometer. Untuk kategori rudal dengan jangkauan lebih pendek, kelompok tersebut mengoperasikan seri Burkan dan Badr yang juga dikaitkan dengan teknologi Iran.

Persenjataan itu memungkinkan Houthi melancarkan serangan lintas perbatasan ke Arab Saudi dan menjangkau sasaran di wilayah Israel. Meski demikian, jangkauan teoritis sebuah rudal tidak otomatis menjamin keberhasilan serangan. Akurasi, sistem pemandu, kondisi peluncuran, serta kemampuan pertahanan udara lawan tetap menentukan hasil akhirnya.

Nawaf Obaid, peneliti senior di Departemen Studi Perang King’s College London, menilai teknologi rudal Houthi pada dasarnya berakar pada teknologi Iran, dengan sejumlah pengaruh teknologi China.

Associated Press juga melaporkan bahwa Iran diyakini memasok sejumlah komponen canggih, termasuk sistem pemandu, sementara Houthi mampu memproduksi atau merakit sebagian persenjataannya di dalam negeri.

Iran membantah memasok senjata kepada kelompok tersebut. Namun, sejumlah pengiriman menuju Yaman dilaporkan telah disita dengan membawa senjata dan komponen yang berasal dari Iran. Laporan panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 turut mendokumentasikan hubungan militer yang luas antara Houthi, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya.

BBC mengutip temuan yang menggambarkan perubahan Houthi menjadi organisasi militer yang lebih kuat melalui transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC, Hizbullah Lebanon, serta para spesialis dari Irak.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler