BACA JUGA:Boneka Labubu Jadi Film! Sony Siapkan Mega-Proyek Hollywood yang Bikin Netizen Heboh
Tora Sudiro Jadi Penggerak Utama Film
Dari semua pemain, saya justru merasa Tora Sudiro mendapat porsi paling “hidup”. Karakter Ario Kuncoro menjadi motor utama yang menggerakkan konflik film, bahkan lebih dominan dibanding Sabdo dan Intan.
Ia tampil dengan wibawa dan intensitas yang solid, sehingga penonton bisa ikut merasakan ancaman di balik sikap tenangnya.
Dialog Martino Lio: Ini yang Paling Mengganggu
Nah, bagian yang paling bikin saya kesal adalah dialog Martino Lio.
Di beberapa adegan, ia bisa terdengar fasih. Tapi di adegan lain, pengucapan bahasa Jawa Timuran terasa seperti:
- asal Jawa
- campur-campur tanpa rasa
- tidak natural di telinga penonton Jawa
- mengganggu atmosfer cerita
Dan yang bikin lebih mengherankan, ini film dengan produksi besar, tapi kok terasa seperti tidak ada “budget” untuk menyewa konsultan bahasa lokal?
Saya malah jadi mempertanyakan skenario dan tim kreatifnya. Apakah dialog ini dibuat tanpa riset? Atau hanya asal tempel supaya terasa “Jawa”?
Jika iya, ini penyakit lama dalam industri film yang sebenarnya bisa sembuh… asal pihak produksi benar-benar peduli.
Yang jelas, ini pertama kalinya saya merasa kecewa pada aktor yang pernah mengantongi dua Piala Citra.
BACA JUGA:Amar Bank Dukung Industri Kreatif Lewat Kolaborasi dengan Film “Rangga & Cinta” Karya Miles Films
Visual dan Penyutradaraan: Kimo Menyelamatkan Film Ini
Meski ceritanya pelit informasi dan dialognya mengganggu, film ini tetap punya nilai jual kuat berkat gaya khas Kimo Stamboel.
Kimo seolah mampu “menutup kelemahan naskah” dengan: