Netizen Soroti! Bangunan Koperasi di Stone Garden Bikin Parkir Menipis

Selasa 07-07-2026,15:30 WIB
Reporter : Tyo Sulistio
Editor : Tyo Sulistio

SEMARAKNEWS.CO.ID – Pemandangan eksotis hamparan batuan karst purba di Stone Garden Citatah kini terusik. Lokasi wisata unggulan di Kabupaten Bandung Barat ini mendadak viral, bukan karena keindahan alamnya, melainkan akibat berdirinya bangunan permanen Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tepat di area parkir.

Kontroversi ini memancing perdebatan panas di kalangan wisatawan dan warga lokal. Dari kacamata psikologi konsumen, wisatawan mencari pengalaman estetika dan kenyamanan. Kehadiran bangunan raksasa di tengah alam liar jelas merusak ekspektasi dan kenyamanan pengunjung.

BACA JUGA:Tragedi 5 Nyawa Tewas, Kemhan Resmi Hapus Doktrin Militer dari Koperasi

Stone Garden terletak di Kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat. Kawasan yang berada di ketinggian 908 mdpl ini menawarkan panorama perbukitan hijau yang memukau, terutama saat sunrise dan sunset.

Namun, siapa sangka di tengah keindahan tersebut, kini berdiri bangunan berukuran kurang lebih 20x30 meter. Ukurannya bahkan disebut jauh lebih besar dari minimarket pada umumnya.

Sukmayadi, Ketua Forum Komunikasi Pokdarwis Kabupaten Bandung Barat, memberikan klarifikasi eksklusif. Ia menegaskan bahwa secara legalitas, bangunan tersebut tidak melanggar aturan.

"Dibangun sejak Oktober 2025 di atas Tanah Kas Desa (TKD) yang merupakan fasos fasum, jadi secara aturan memang boleh," ujar Sukmayadi.

BACA JUGA:Gen Z Wajib Tahu! Profil Jerhemy Owen yang Tanam 150 Ribu Pohon di Aceh

Meskipun legal secara administratif, Sukmayadi menyayangkan dampak bangunan ini terhadap konsep wisata alam yang sudah beroperasi. Kehadiran struktur raksasa ini jelas menggerus fasilitas vital bagi pengunjung.

Dampak fisik dari pembangunan koperasi ini sangat dirasakan oleh para traveler yang berkunjung. Berikut adalah beberapa perubahan drastis yang terjadi di kawasan wisata:

  • Kapasitas Parkir Anjlok: Lahan parkir yang semula mampu menampung 18 bus besar, kini hanya muat untuk 3 bus. Kendaraan roda dua dan empat terpaksa parkir secara acak dan berdesakan.
  • Hilangnya Fasilitas Umum: Balai pertemuan atau pendopo yang biasa digunakan wisatawan untuk beristirahat kini beralih fungsi menjadi area koperasi.
  • Gangguan Visual: Bangunan permanen yang masif merusak lanskap alami dan menghambat pandangan menuju formasi batuan kapur yang menjadi ikon utama.
  • BACA JUGA:Prabowo dan Singapura Kompak Jaga Selat Malaka, Jalur Dagang Dunia Tak Boleh Ikut Lumpuh

    Bagi para fotografer dan pecinta alam, perubahan ini tentu menjadi pukulan telak. Mereka yang rela bangun pagi demi mengabadikan momen matahari terbit di atas batuan karst kini harus berebut ruang dengan kendaraan yang parkir semrawut.

    Padahal, Stone Garden bukan sekadar tempat berfoto. Kawasan Karst Citatah memiliki nilai geologi dan arkeologi yang sangat tinggi. Lokasinya berdekatan dengan Goa Pawon, situs prasejarah tempat ditemukannya fosil manusia purba dan berbagai artefak penting.

    Akses menuju kawasan ini sebenarnya cukup mudah, yakni 1 hingga 1,5 jam dari Kota Bandung melalui Tol Padalarang. Fasilitas seperti gazebo, warung makan, dan jalur pendakian ringan seharusnya menjadi nilai tambah bagi wisatawan.

    Imbas dari penyempitan lahan parkir ini jelas merugikan sektor pariwisata. Pengunjung yang mengincar kenyamanan dan spot foto tanpa gangguan kini harus berpikir dua kali sebelum berkunjung.

    BACA JUGA:Banggar DPR Rem Wacana Gaji Kepala Daerah Naik, Fiskal Negara Diminta Jangan Dijadikan Tumbal

     

    Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah. Pembangunan koperasi desa yang bertujuan mulia tidak boleh mengorbankan ekosistem wisata dan situs purba yang nilainya tak ternilai. Keseimbangan antara pemberdayaan ekonomi dan pelestarian geopark harus segera ditemukan agar Stone Garden tetap lestari untuk generasi mendatang.

    Kategori :