JAKARTA, Semaraknews.co.id — Selama ini bawang merah paling banter dianggap pahlawan dapur. Dicincang, ditumis, lalu bikin makanan terasa lebih hidup. Namun, bagian yang biasanya langsung masuk tempat sampah justru sedang dilirik peneliti untuk urusan yang jauh lebih serius, yakni melindungi sel surya dari radiasi ultraviolet atau UV.
Dalam studi terbaru, para peneliti menemukan kulit bawang merah berpotensi menjadi bahan pelindung sel surya yang lebih ramah lingkungan. Ekstrak dari kulit bawang merah disebut mampu membantu meningkatkan perlindungan terhadap paparan sinar UV yang selama ini menjadi salah satu ancaman bagi ketahanan sel surya.
Masalahnya, sel surya pada panel surya umumnya masih menggunakan lapisan pelindung berbahan dasar minyak bumi. Bahan seperti polivinil fluorida atau PVF dan polietilena tereftalat atau PET digunakan untuk melindungi komponen sel surya dari kerusakan akibat paparan sinar UV sehingga perangkat tersebut dapat bekerja dalam waktu lama.
Ketergantungan pada bahan berbasis minyak bumi inilah yang kemudian mendorong para peneliti mencari alternatif yang lebih berkelanjutan. Salah satu kandidatnya adalah nanoselulosa, material berbasis tumbuhan yang diperoleh dengan memecah selulosa menjadi serat berukuran sangat kecil hingga skala nano.
Nah, di sinilah kulit bawang merah mulai ikut bermain. Peneliti menemukan bahwa nanoselulosa yang dipadukan dengan pewarna dari ekstrak kulit bawang merah mampu memberikan perlindungan UV yang sangat efektif.
BACA JUGA:47 Nyawa Melayang usai Gempa NTT, Pemerintah Tetapkan Status Darurat 2 Minggu
Temuan tersebut dipublikasikan dalam studi berjudul Sustainable Nanocellulose UV Filters for Photovoltaic Applications, Comparison of Red Onion (Allium cepa) Extract, Iron Ions, and Colloidal Lignin di jurnal ACS Applied Optical Materials.
Hasil pengujian menunjukkan film pelindung berbahan tersebut mampu menyaring 99,9 persen radiasi UV hingga panjang gelombang 400 nanometer. Yang lebih menarik, kemampuan tersebut bahkan mengungguli filter UV komersial berbasis PET yang sudah beredar di pasaran.
Rustem Nizamov, peneliti doktoral di University of Turku, Finlandia, menyebut material tersebut sebagai “pilihan yang menjanjikan untuk aplikasi yang membutuhkan material pelindung berbasis biologis”.
Jadi, kulit bawang yang biasanya dianggap limbah ternyata punya potensi lain. Setelah selama ini cuma menemani sampah dapur, ia berpeluang masuk ke laboratorium dan ikut membantu teknologi energi surya.
Tak Cuma Menahan UV, Cahaya Tetap Harus Lewat
Membuat pelindung untuk sel surya ternyata tidak sesederhana mencari bahan yang paling ampuh menahan sinar UV. Ada kompromi yang harus dibayar. Lapisan pelindung memang harus mampu menahan radiasi yang bisa merusak sel surya, tetapi pada saat yang sama tetap harus membiarkan cahaya yang dibutuhkan sel surya untuk menghasilkan listrik melewatinya.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan ketahanan empat jenis film pelindung berbahan serat nanoselulosa. Masing-masing film diberi perlakuan menggunakan ekstrak bawang merah, lignin yang merupakan polimer alami pada dinding sel tumbuhan, serta ion besi.
Keempat bahan tersebut sama-sama mampu memberikan perlindungan terhadap radiasi UV. Namun, film yang menggunakan pewarna dari ekstrak kulit bawang merah menunjukkan performa paling efektif dibandingkan material lainnya.
BACA JUGA: Guru Besar Turun Gunung Suarakan 17 Krisis Indonesia