Panel Surya RI Dihantam Tarif Trump 114 Persen, Pemerintah Bilang Ada Berkah di Baliknya
Tarif Trump hingga 114 persen menghantam ekspor panel surya RI ke AS. Pemerintah ingin mengalihkan kapasitas produksi ke pasar domestik.-Foto: Australian Solar Quotes-
JAKARTA, Semaraknews.co.id -- Amerika Serikat menaikkan bea masuk produk panel surya asal Indonesia hingga 114 persen. Industri yang selama ini mengandalkan pasar AS pun mendapat pukulan. Namun pemerintah justru melihat celah lain dari kebijakan tersebut, yakni mendorong panel surya buatan dalam negeri diserap di pasar Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan kenaikan tarif tersebut bisa menjadi momentum untuk memperbesar pasar domestik. Dengan kata lain, ketika pintu Amerika makin mahal untuk diketuk, pemerintah ingin industri panel surya Indonesia mengalihkan sebagian produksinya ke dalam negeri.
"Industri kita untuk panel surya sebelumnya kita ekspor ke Amerika. Namun beberapa waktu yang lalu, karena ada pengenaan tambahan yang masuk sampai 114 persen, maka sebenarnya potensi ini, peluang ini bisa kita serap di dalam negeri," kata Elen di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Elen menyebut industri modul surya nasional sebenarnya sudah punya modal produksi yang lumayan besar. Kapasitas produksinya kini sekitar 11 gigawatt per tahun. Angka tersebut bisa dimanfaatkan untuk menopang ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS hingga 100 gigawatt peak.
BACA JUGA:Ekonomi Syariah Indonesia Makin Gemuk, BI Bilang Potensinya Besar tapi Manfaatnya Jangan Cuma Jadi Angka
Program PLTS 100 GWp itu bukan proyek kecil-kecilan. Pemerintah memproyeksikan program tersebut mampu menciptakan sekitar 5,5 juta lapangan kerja, menekan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2, serta menghemat anggaran hingga Rp74 triliun setiap tahun. Pemerintah sebelumnya memperkirakan kebutuhan investasi program ini mencapai sekitar USD 73 miliar atau sekitar Rp1.306,7 triliun dengan kurs Rp17.900 per USD.
Di sinilah pemerintah ingin urusan membangun PLTS tidak berhenti pada memasang panel lalu selesai. Pengembangan pembangkit juga diharapkan ikut menghidupkan industri panel surya nasional, sehingga duit yang berputar dari proyek energi baru tersebut tidak semuanya mengalir ke luar negeri.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sudah ada 34 pabrikan modul surya di dalam negeri. Total kemampuan produksinya mencapai 10.994 megawatt peak atau MWp per tahun. Modul yang diproduksi bahkan bisa mencapai kapasitas maksimum sekitar 720 watt peak per unit, dengan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN rata-rata berada di kisaran 40 hingga 55 persen.
Masalahnya, punya pabrik belum otomatis berarti produknya laris. Pemerintah masih menghadapi sejumlah ganjalan, mulai dari realisasi proyek PLTS yang belum tinggi hingga aturan TKDN minimum yang masih membuka ruang penggunaan modul surya impor.
Urusan PLTS atap juga belum sepenuhnya mulus. Kuota yang tersedia masih terbatas, sementara permintaan penggunaan PLTS atap dari kalangan industri belum seluruhnya bisa ditampung. Jadi, industri panel surya dalam negeri boleh saja sudah punya kapasitas produksi 11 GW, tetapi pasar yang menampungnya belum tentu ikut berlari sekencang kapasitas pabrik.
Karena itu, Elen menilai penguatan pasar domestik harus dibarengi pembangunan rantai pasok dari hulu. Ketergantungan terhadap pasar global juga perlu dikurangi, terutama untuk bahan baku penting seperti wafer dan ingot.
BACA JUGA:Prabowo Takziah ke Rumah Megawati, Guruh Soekarnoputra Berpulang di Usia 73 Tahun
Pemerintah pun mengusulkan insentif nonfiskal agar produk panel surya lokal lebih mudah masuk ke pasar dalam negeri. Salah satu gagasannya adalah memberikan kuota PLTS atap yang lebih besar kepada pengguna yang memakai modul produksi dalam negeri.
"Kalau target 100 GW itu bisa jalan, sebenarnya industri kita juga bisa dikembangkan. Saat ini potensinya sudah 11 GW," kata Elen.
Pemerintah juga mendorong perusahaan lokal menggandeng pemain global. Kerja sama tersebut diharapkan membawa investasi sekaligus transfer teknologi dan memperkuat rantai pasok industri panel surya nasional.
Dengan tarif Amerika yang membuat ekspor panel surya Indonesia menjadi lebih berat, pemerintah kini menghadapi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Kapasitas produksi sudah tersedia, proyek PLTS 100 GWp sudah dicanangkan, tetapi pasar domestik harus benar-benar disiapkan agar panel surya buatan sendiri tidak cuma berjajar rapi di gudang sambil menunggu pembeli.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-