Persoalannya, rencana tersebut kemudian memicu pro dan kontra karena dianggap beririsan dengan gagasan relokasi warga Gaza yang selama ini didorong Amerika Serikat dan Israel. Di tengah kekhawatiran itu, Prabowo berulang kali menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menawarkan relokasi permanen.
“Oh tidak, tidak (relokasi). Untuk membantu,” kata Prabowo dalam Antalya Diplomacy Forum di Turki, Jumat, 11 April 2025.
Prabowo menyebut evakuasi tersebut sebagai tawaran kemanusiaan dari pemerintah Indonesia untuk membantu warga Palestina yang terdampak perang. Ia juga kembali menegaskan bahwa pelaksanaannya harus mendapatkan persetujuan dari semua pihak.
“Nanti saya akan ketemu dengan pimpinan-pimpinan dari Palestina juga bagaimana cara nanti pelaksanaannya,” ucap Prabowo.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Indonesia ingin membantu, Prabowo menyebut evakuasi itu hanya sementara, tetapi Turki dan Arab Saudi justru melihat pemindahan warga Gaza dengan kacamata yang jauh lebih sensitif. Bagi mereka, jangan sampai alasan kemanusiaan malah berujung pada situasi di mana warga Palestina meninggalkan tanahnya sendiri dan sulit untuk kembali.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah Indonesia punya pesawat untuk mengevakuasi 1.000 orang. Pertanyaan besarnya adalah apakah evakuasi tersebut benar-benar bisa menjamin warga Gaza kembali ke tanah mereka setelah kondisi membaik. Sebab dalam konflik Palestina, kata “sementara” punya sejarah panjang yang tidak selalu berakhir dengan kepulangan.