“Kalau daerah rawa seperti ini tidak terlalu sulit, hanya 10–15 meter untuk mengebor air sehingga bisa segera memadamkan api-api yang ada di berbagai wilayah itu,” kata Zainul dalam rapat tersebut.
Prabowo kemudian menanyakan kemungkinan pembentukan tim pengeboran yang melibatkan masyarakat setempat. Zainul menjawab bahwa pihaknya akan mencari personel yang dapat menjalankan pekerjaan itu.
Setelah mendapat penjelasan bahwa biaya pembuatan satu sumur bor sekitar Rp10 juta, Prabowo menyatakan akan menyediakan Rp2 miliar untuk membangun 200 titik.
“Baik. Saya kirim Rp2 miliar untuk 200 titik,” kata Prabowo.
Zainul menyambut keputusan itu dan mengatakan masyarakat juga akan dilibatkan dalam pembuatan sumur bor.
Tambahan sumur bor diharapkan membantu petugas memperoleh pasokan air lebih dekat dengan titik kebakaran. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada lokasi pengeboran, ketersediaan air, kondisi gambut, serta kesiapan operator dan pompa di lapangan.
Di tengah upaya tersebut, tantangan pemerintah bukan hanya memadamkan api yang sudah muncul, tetapi juga mencegah kebakaran merembet ke zona inti dan kawasan penting bagi satwa. Di Tanjung Puting, keberhasilan operasi pada akhirnya akan diukur dari seberapa jauh api bisa dikendalikan dan kawasan konservasi terlindungi.