Petisi Copot Gus Yahya Tembus Ribuan Tanda Tangan, UI Jawab dengan Kalimat Standar
Petisi pencopotan Gus Yahya dari MWA UI tembus ribuan tanda tangan. Pihak UI hanya menjawab dengan kalimat standar soal polemik ini.-Foto: IG @yahyacholilstaquf-
JAKARTA, Semaraknews.co.id – Muncul sebuah drama kampus yang bikin dahi berkerut sekaligus geleng-geleng. Kali ini, targetnya adalah Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. Ketua Umum PBNU yang juga menduduki kursi empuk Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia itu jadi sasaran petisi pencopotan.
Biang keroknya adalah undangan kepada Peter Berkowitz, akademikus yang dicap pro zionis, untuk tampil di panggung UI.
Pihak kampus tentu langsung ditodong komentar. Tapi Kepala Hubungan Masyarakat UI, Arie Afriansyah, memilih jurus irit bicara. Katanya, UI tak ingin ribut-ribut soal petisi yang menyeret nama Gus Yahya.
Yang jelas, Arie menegaskan, UI tetap menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi. “Selama sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” kata dia kepada wartawan, Senin, 15 September 2025. Bahasa halus khas pejabat, alias ngomong iya tapi juga enggak.
Petisi ini bukan muncul dari ruang kosong. Ia digagas oleh Komunitas Kolektif Mahasiswa Universitas Indonesia yang Peduli Keadilan di Palestina.
Judulnya cukup gamblang: “Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia.” Petisi ini sudah beredar sejak 12 September 2025.
Data terakhir per Senin, 15 September 2025, menampilkan angka yang lumayan bikin deg-degan. Ada 2.017 mahasiswa yang sudah tanda tangan, seolah mengirim sinyal bahwa suara penolakan ini bukan main-main.
Di tengah gempuran tanda tangan digital itu, Gus Yahya sendiri masih adem-ayem. Ketua Umum PBNU ini belum buka suara sedikit pun soal petisi yang menempel erat dengan namanya.
BACA JUGA:Belum Ada Surpres dari Prabowo, Gosip Pergantian Kapolri Masih Sebatas Warung Kopi
Alasan para mahasiswa mengajukan petisi lumayan keras. Mereka menyebut Gus Yahya lalai karena mengundang Peter Berkowitz dalam acara UI pada 23 Agustus lalu. Padahal, status Gus Yahya bukan main. Ia menjabat Ketua MWA UI untuk periode 2024 sampai 2029. Jadi, blunder ini dianggap tak bisa cuma selesai dengan permintaan maaf.
Narasi petisi bahkan menyebutkan permintaan maaf tidak cukup sebagai tanggung jawab. Mereka menuntut konsekuensi nyata berupa pencopotan. Selain itu, mereka berargumen bahwa pemakzulan perlu dilakukan agar kejadian serupa tak terulang.
Ada juga jargon heroik yang diselipkan di dalam teks petisi, “Upaya membersihkan nama besar UI dari afiliasi zionisme.” Kutipan ini dimuat dalam latar belakang petisi yang bisa diakses sejak Sabtu, 13 September 2025.
Tidak berhenti di situ. Komunitas lain yang menamakan diri Universitas Indonesia Student for Justice in Palestine atau UI SJP ikut nimbrung. Mereka menguliti rekam jejak Gus Yahya. Menurut UI SJP, Ketua Umum PBNU ini punya reputasi yang terlalu sering bersinggungan dengan tokoh maupun agenda zionisme.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-