Ekonomi RI Mulai Kehabisan Napas! CORE Bongkar Sinyal Bahaya, Target Prabowo Terancam Tinggal Angan

Ekonomi RI Mulai Kehabisan Napas! CORE Bongkar Sinyal Bahaya, Target Prabowo Terancam Tinggal Angan

CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2026 hanya 4,8-4,9 persen, di bawah target pemerintah akibat tekanan global dan domestik.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id —  Optimisme pemerintah soal pertumbuhan ekonomi tahun ini kembali mendapat ujian. Lembaga Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan laju ekonomi nasional pada triwulan II 2026 bakal melambat dan sulit menembus level 5 persen.

Prediksi tersebut muncul menjelang Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 5 Agustus 2026.

Dalam laporan bertajuk Brief Report CORE Midyear Economic Review 2026 bertema Pertaruhan Stabilitas Ekonomi, CORE menilai sepanjang semester pertama 2026 Indonesia dihantam tekanan dari luar negeri sekaligus persoalan di dalam negeri. Kombinasi keduanya dinilai menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini.

“Karena itu, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 akan mencapai 4,8 hingga 4,9 persen,” demikian tertulis dalam laporan CORE yang dikutip pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Tim peneliti CORE menilai kondisi ekonomi pada enam bulan pertama 2026 jauh lebih berat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat mulai mereda sejak triwulan pertama, pecahnya konflik di Iran justru memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan biaya produksi dunia usaha. Kondisi itu ikut menekan prospek pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua.

BACA JUGA:VinFast Indonesia Tebar Beragam Promo Spesial di GIIAS 2026, Beli Mobil Listrik Makin Untung

Namun persoalan bukan hanya datang dari luar negeri. CORE menilai tekanan dari dalam negeri atau domestic uncertainties justru menjadi beban tambahan akibat ketidakpastian dalam pengelolaan kebijakan pemerintah, termasuk tata kelola fiskal dan pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.

CORE juga menyoroti perubahan kebijakan pemerintah yang berlangsung sangat cepat tetapi minim komunikasi kepada publik maupun pelaku usaha. Pola tersebut, menurut lembaga itu, bahkan telah menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global, Fitch Ratings, dan Moody’s. Ketiganya sama-sama menyoroti aspek transparansi dalam pengelolaan makroekonomi Indonesia.

Sejalan dengan itu, berbagai lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 hanya berada di kisaran 4,7 hingga 5 persen.

Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen. Menurut CORE, arah kebijakan moneter yang semakin ketat tersebut berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap sektor riil.

BACA JUGA:BEM Unair Sentil Rezim di Depan Ribuan Maba! Poster Mahasiswa Hilang 1998 Dibentang

CORE juga menilai ketidakpastian arah kebijakan pemerintah telah menggerus kepercayaan investor. Beberapa kebijakan yang disorot antara lain perubahan aturan ekspor komoditas strategis hingga pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD).

Pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, juga dinilai membawa perubahan besar terhadap pola pengelolaan fiskal pemerintah pusat sehingga ikut menjadi perhatian dalam laporan tersebut.

Untuk keseluruhan 2026, CORE memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen. Angka itu masih berada di bawah target pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya