Gibran Jenguk Korban Keracunan MBG di Karo, Dokter Pribadi Ikut Turun Tangan

Gibran Jenguk Korban Keracunan MBG di Karo, Dokter Pribadi Ikut Turun Tangan

MK diminta memanggil Gibran dalam sengketa syarat pencalonan Pilpres 2024. Permintaan diajukan Bambang Widjojanto dalam sidang pembuktian.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi anak-anak yang dirawat akibat keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Efarina Etaham, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat, 11 September 2026.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Gibran untuk melihat langsung kondisi anak-anak yang belum juga pulih setelah menyantap makanan program andalan pemerintah. Bukan cuma datang menjenguk, putra sulung mantan Presiden Joko Widodo itu juga membawa dokter pribadinya untuk membantu memantau kondisi para korban.

“Saya minta dokter saya tinggal di sini dulu, untuk mengkoordinasikan sekiranya ada anak-anak yang butuh penanganan lebih intens di Jakarta,” kata Gibran dalam keterangan resminya pada Jumat, 11 September 2026.

Dokter pribadi Gibran diminta berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk memastikan pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan. Pemerintah, kata dia, mendukung proses pemulihan para korban keracunan MBG, terutama agar kondisi kesehatan anak-anak segera membaik dan mereka dapat kembali bersekolah.

Gibran juga menyatakan setiap anak korban keracunan harus mendapat perawatan yang tepat. Jika diperlukan, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut.

BACA JUGA:Remaja 16 Tahun Muntah Seharian, Usai Operasi Dokter Temukan Gumpalan Rambut 1,5 Kg

Salah satu korban yang dipersiapkan untuk dirujuk ke ibu kota adalah siswi SMK Bersama Berastagi berinisial FP. Berdasarkan rilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden, FP masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Amanda Berastagi. Proses rujukan ke Jakarta tengah dipersiapkan agar korban memperoleh penanganan yang lebih optimal.

Fitriani, orang tua korban bernama Agnesia Paruliana br Silitonga, mengapresiasi langkah pemerintah yang memberikan opsi rujukan ke Jakarta. Bagi keluarga, kesempatan mendapat penanganan medis lebih komprehensif tentu lebih berarti daripada sekadar mendengar janji bahwa program makan bergizi akan terus berjalan.

“Jadi kami tadi sudah bicara sama ayahnya (Agnes), sama anak juga, kami ke Jakarta. Biar lebih mendapatkan obat yang terbaik, dan jaminan kesehatan yang terbaik juga, para dokter yang terbaik juga,” ucap Fitriani.

Keluarga berharap penanganan medis di Jakarta dapat membantu putrinya segera pulih dan kembali menuntut ilmu. Harapan yang sebenarnya sederhana, tetapi harus ditempuh melalui proses panjang setelah makanan yang seharusnya menunjang kesehatan justru membuat anak-anak jatuh sakit.

Kasus keracunan massal akibat MBG di Karo terjadi pada 13 Agustus 2026. Salah satu korban, FP, dilaporkan mengalami komplikasi jangka panjang, mulai dari kejang, kesulitan berbicara, hingga dugaan gangguan ingatan.

Hampir sebulan setelah kejadian, FP masih dirawat di rumah sakit dan belum pulih. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan keracunan makanan tidak berhenti ketika korban mendapat perawatan awal. Ada pemulihan panjang yang harus dihadapi anak dan keluarganya.

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono sebelumnya menyebut adanya dugaan kelalaian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi setempat dalam kasus keracunan massal tersebut.

Hasil investigasi sementara BGN menemukan sekitar 200 hingga 300 ekor ikan diduga tidak disimpan di dalam mesin pendingin. Ikan-ikan itu kemudian dibiarkan berada pada suhu ruangan selama 12 jam hingga lebih dari 12 jam.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya