Prabowo Bicara Abad Hijau di KTT BRICS, Mineral Melimpah Jangan Cuma Jadi Pajangan

Prabowo Bicara Abad Hijau di KTT BRICS, Mineral Melimpah Jangan Cuma Jadi Pajangan

Prabowo sebut pakar yang mengkritiknya “goblok”. PVRI menilai ucapan itu mencerminkan sikap anti-pengetahuan dan kritik ilmiah.-Foto: Dok. Sekretariat Presiden.-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Presiden RI Prabowo Subianto kembali membawa isu sumber daya alam ke panggung internasional. Dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Minggu, Prabowo menyebut negara-negara anggota BRICS memiliki modal besar untuk membangun abad hijau di tengah ancaman perubahan iklim.

Modal itu bukan sekadar jargon pembangunan berkelanjutan yang enak dipajang di spanduk konferensi. BRICS, kata Prabowo, memiliki mineral kritis dan sumber energi dalam jumlah signifikan. Dua hal yang kini menjadi rebutan dunia ketika transisi energi mulai mengubah peta kekuatan ekonomi global.

“Begitu juga dengan negara-negara BRICS. Bersama-sama kita memiliki secara signifikan mineral kritis dan sumber energi. Kita memiliki segalanya yang akan menjadi landasan abad hijau,” kata Prabowo seperti dipantau secara daring dari Jakarta.

Indonesia sendiri, menurut Prabowo, memiliki sejumlah sumber daya yang dibutuhkan dunia. Mulai dari cadangan mineral kritis, logam tanah jarang, sumber energi baru terbarukan, teknologi tinggi, hingga hutan yang memiliki peran penting bagi lingkungan.

Daftar kekayaan alam tersebut terdengar seperti katalog keunggulan komparatif yang tak kunjung habis. Persoalannya, memiliki sumber daya dan mampu mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan adalah dua perkara berbeda.

Karena itu, Prabowo mengajak negara-negara BRICS dan mitranya untuk melihat bencana bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Bencana, menurut dia, harus dibaca dalam kaitannya dengan ketahanan iklim dan pembangunan nasional.

BACA JUGA:Jokowi Belum Pensiun dari Panggung Dunia, Undangan Forum Global Terus Berdatangan

“Kita harus melihat hubungan dekat antara resiliensi perubahan iklim dan perkembangan nasional. Indonesia tidak sendiri menghadapi tantangan ini, banyak anggota BRICS dan negara-negara Global South menghadapi masalah terkait yang sama,” tuturnya.

Prabowo menilai negara-negara BRICS perlu menghadapi tantangan tersebut secara bersama-sama. Caranya dengan menyatukan sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki masing-masing negara.

Dengan kata lain, kekuatan BRICS tidak cukup jika hanya dihitung dari berapa banyak mineral yang terkubur di bawah tanah atau berapa luas hutan yang membentang. Kekuatan itu baru berarti ketika potensi tersebut bisa diolah menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Gagasan tersebut sejalan dengan tema KTT BRICS 2026, yakni “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth” atau “Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan untuk Membentuk Masa Depan bagi Pertumbuhan Global yang Inklusif”.

Tema itu menempatkan ketahanan, inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak hanya menguntungkan segelintir negara.

“Ketika kita menghadapi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita juga menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah yang sangat besar,” katanya.

Prabowo kemudian menekankan pentingnya mengakui nilai dari berbagai potensi yang dimiliki negara-negara BRICS. Potensi tersebut, kata dia, harus digunakan untuk saling membantu menghadapi tantangan bersama.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya