Karhutla Menggila, 64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan, Ribuan Titik Api Masih Nongol

Karhutla Menggila, 64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan, Ribuan Titik Api Masih Nongol

Malaysia kirim satu pesawat, tiga helikopter, dan 52 personel untuk membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id -- Kebakaran hutan dan lahan alias karhutla rupanya belum mau diajak kompromi. Pemerintah mengerahkan 64 pesawat dan 54.394 personel gabungan untuk berjibaku memadamkan api yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan operasi penanganan karhutla dilakukan dari dua arah sekaligus, darat dan udara. Dari udara, pemerintah mengandalkan 55 pesawat Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan sembilan pesawat Tentara Nasional Indonesia.

Menurut Kementerian Kehutanan, armada tersebut tidak semuanya bekerja dengan cara yang sama. Ada helikopter water bombing yang bertugas menjatuhkan air ke titik kebakaran, helikopter patroli untuk memantau kondisi lapangan, serta pesawat yang mendukung Operasi Modifikasi Cuaca.

Sementara dari darat, 54.394 personel gabungan ikut diterjunkan. Mereka berasal dari TNI, Kepolisian RI, Kementerian Kehutanan, BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat.

"Sejak Agustus, 64 pesawat telah dikerahkan untuk melakukan water bombing, didukung 54.394 personel gabungan yang terus bergerak di lapangan, menjangkau titik-titik kebakaran dan mencegah api semakin meluas," kata Teddy pada Ahad, 20 September 2026, seperti dikutip dari keterangan tertulis Sekretariat Presiden.

BACA JUGA:Prabowo Sebut Pakar Goblok, PVRI Balik Sentil Istana Soal Anti-Pengetahuan

Pemerintah mengklaim seluruh kekuatan yang tersedia terus dikerahkan untuk menangani karhutla. Operasi udara dan darat dilakukan bersamaan dengan satu tujuan utama, yakni memadamkan api sebelum asap dan kebakaran semakin menyebar ke mana-mana.

"Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla," ujar Teddy.

Masalahnya, memadamkan karhutla tidak sesederhana menyiram api lalu selesai. Luas wilayah yang harus ditangani dan kondisi lahan gambut membuat pekerjaan di lapangan jauh lebih rumit.

"Luasnya wilayah serta kondisi lahan gambut yang sulit menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia," tutur Teddy.

Dan kalau mau melihat seberapa serius masalahnya, angka titik panas bisa menjadi salah satu cerminannya. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat hingga Ahad, 20 September 2026 pukul 23.59 WIB, terdapat 1.532 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di seluruh Indonesia.

Angka tersebut bahkan naik 209 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.323 titik pada Sabtu, 19 September 2026. Data titik panas itu diperoleh dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

BACA JUGA:Industri Otomotif RI Jangan Cuma Jago Jual Mobil, AI dan Semikonduktor Sudah Mengejar

Di enam provinsi prioritas, ceritanya juga belum benar-benar berakhir. Hingga Ahad pukul 21.05 WIB, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 968 titik. Meski turun dari 1.035 titik sehari sebelumnya, jumlahnya tetap menunjukkan betapa luas pekerjaan rumah yang harus dibereskan.

Sumatera Selatan mencatat 285 titik panas, melonjak dari 112 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Barat memiliki 98 titik, turun dari 107 titik, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat 39 titik, berkurang dari 55 titik.

Jambi juga mengalami kenaikan dari 14 menjadi 26 titik panas. Sementara Riau yang sehari sebelumnya tidak mencatat titik panas kini terdeteksi memiliki satu titik.

Jadi, meski armada udara sudah beterbangan dan puluhan ribu personel sudah bergerak, angka-angka tersebut menunjukkan satu hal sederhana. Api belum sepenuhnya kapok. Pemerintah masih punya pekerjaan besar untuk memastikan karhutla tidak berubah dari sekadar titik panas menjadi bencana yang lebih luas.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler