Buku Sejarah Pemerintah Dikritik Habis-habisan, Arkeolog Sebut Klaim Nusantara sebagai Pusat Peradaban Bikin Mundur
Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mengkritik buku sejarah pemerintah dan menilai klaim Nusantara sebagai pusat peradaban bermasalah secara akademik.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global yang digarap Kementerian Kebudayaan belum juga selesai dipajang, sudah lebih dulu menuai kritik. Arkeolog Harry Truman Simanjuntak menilai ada persoalan serius dalam fondasi akademik buku tersebut, terutama pada jilid pertama yang terdiri dari enam bab dengan total 1.163 halaman.
Truman menyoroti sejumlah persoalan mendasar, mulai dari landasan teori hingga metodologi yang digunakan dalam penyusunan sejarah Indonesia versi pemerintah. Salah satu yang paling ia persoalkan adalah klaim bahwa Indonesia merupakan episentrum peradaban dunia atau gagasan out of Nusantara.
Menurut Truman, narasi tersebut bermasalah jika dilihat dari perspektif perkembangan manusia dan kebudayaan. Ia menunjuk Afrika sebagai wilayah asal-usul manusia sekaligus tempat berlangsungnya perkembangan kebudayaan manusia hingga masa modern.
“Dilihat dari mana pun, Afrika yang menjadi asal-usul manusia dan perkembangan budaya sampai ke masa sekarang,” kata Truman dalam sebuah diskusi di kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 22 September 2026.
Ia bahkan menilai materi yang disajikan dalam jilid pertama buku tersebut justru menunjukkan kemunduran dalam penulisan sejarah dan prasejarah Indonesia.
Truman menjelaskan, bukti mengenai keberadaan manusia di Afrika jauh lebih tua dibandingkan temuan manusia purba di Indonesia. Menurut dia, manusia telah muncul di Afrika sejak sekitar dua juta tahun lalu, sementara keberadaan manusia purba di Indonesia baru tercatat sekitar 1,5 juta tahun lalu.
BACA JUGA:Survei Poltracking: Elektabilitas Gerindra Tertinggi, Capai 23,2 Persen
Karena itu, ia mempertanyakan klaim bahwa Homo erectus telah berada di Indonesia sejak 1,8 juta tahun lalu. Menurut Truman, klaim tersebut semestinya ditopang bukti penanggalan yang autentik.
“Tim penyusun menggembar-gemborkan bahwa Homo erectus sudah ada di Indonesia 1,8 juta tahun, tetapi tidak ada bukti autentik, bukti penanggalan yang mengonfirmasi klaim itu,” ujarnya.
Padahal, jilid pertama yang diberi judul Akar Peradaban Nusantara memang dirancang untuk membahas fondasi ekologis, antropologis, dan kultural dari perjalanan panjang kawasan Nusantara. Buku tersebut mengulas masa sebelum Nusantara mengalami perjumpaan budaya dengan peradaban besar seperti India, Tiongkok, dan Persia.
Dalam narasi yang dibangun para penyusun, perubahan geologi dan iklim disebut turut membentuk lingkungan hayati Nusantara yang kaya sekaligus menantang. Dari lingkungan tersebut kemudian berkembang kehidupan manusia purba hingga manusia modern melalui proses migrasi, adaptasi ekologis, perkembangan kepercayaan, serta teknologi awal seperti bercocok tanam dan pengolahan logam.
Jilid pertama itu juga menempatkan tradisi maritim dan permukiman pesisir sebagai simpul penting kehidupan masyarakat Nusantara yang terbuka terhadap pertukaran budaya lintas wilayah.
Namun, bagi Truman, persoalannya bukan sekadar soal bagaimana cerita tersebut disusun. Ia juga mempertanyakan penggunaan semboyan reinventing Indonesia identity dalam proyek penulisan sejarah tersebut.
BACA JUGA:Prabowo Bikin Badan Baru Urus Gambut, Karhutla Jangan Cuma Dipadamkan Saat Sudah Membara
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-