Namun, di tingkat daerah, cerita mengenai paket Istana terus beredar. Katib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap Abdal Malik mengatakan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid pernah menemui perwakilan pengurus NU Jawa Tengah di Semarang pada pekan terakhir Agustus 2026.
Menurut Abdal, Nusron membuka pertemuan dengan menyampaikan bahwa calon rais am yang diinginkan sahib ad-daulah adalah Miftachul Akhyar. “Sahib ad-daulah itu yang dimaksudkan adalah presiden,” ujarnya kepada wartawan pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Setelah pengarahan tersebut, tim Nusron disebut berinteraksi dengan para pengurus yang hadir. Abdal memperoleh cerita dari pengurus PCNU Cilacap bahwa tim tersebut menawarkan daftar anggota dewan formatur atau AHWA. Nama Miftachul Akhyar disebut masuk dalam daftar itu.
“Sedangkan ketua umum prioritas adalah Gus Kikin,” tutur Abdal.
Jika proses muktamar berlangsung dinamis dan pengurus daerah diminta mengajukan nama, kata Abdal, mereka masih bisa memilih dua kandidat lain. Namun Gus Kikin tetap ditempatkan sebagai pilihan utama.
Abdal juga mengaku mendengar kabar bahwa pengurus daerah yang bersedia mendukung paket tersebut akan memperoleh insentif dalam beberapa tahap dan dikumpulkan di Surabaya. PCNU Cilacap, menurut dia, memilih menolak skenario itu dan langsung berangkat ke Jombang.
“Skenario itu menodai semangat muktamar,” ujarnya.
Nusron Wahid tidak merespons tiga kali panggilan telepon maupun pesan WhatsApp yang dikirim hingga Sabtu, 29 Agustus 2026.
Yahya Cholil Staquf juga mengaku mendengar kabar mengenai manuver orang-orang dekat Presiden. Beberapa pengurus cabang, kata Yahya, melaporkan adanya kelompok yang mengatasnamakan Presiden untuk mencari dukungan dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.
“Kok, berani sekali mengatakan bahwa ini perintah Presiden,” katanya.
Laporan lain yang diterima Yahya bahkan menyebut kelompok tersebut menggunakan cara-cara yang lebih vulgar untuk mengumpulkan dukungan. “Memakai uang dan memalsukan stempel,” tuturnya.
Seorang politikus Gerindra yang membantu pemenangan Kikin mengatakan timnya memang memesan hotel dan penginapan untuk pengurus cabang maupun wilayah yang sudah memberikan dukungan. Ia menyebut bentuk insentif yang dijanjikan kepada muktamirin dalam tiga tahap adalah ongkos pesawat.
Sejumlah awak media kemudian mendatangi sejumlah lokasi di Surabaya yang diduga menjadi tempat menginap atau karantina peserta Muktamar NU, antara lain Asrama Haji Sukolilo dan Trans Luxury Hotel. Di Asrama Haji pada Rabu siang, 26 Agustus 2026, terlihat lima laki-laki bersongkok mengenakan sarung dan kemeja putih berlogo Nahdlatul Ulama.
Situasinya lebih ramai di Trans Luxury Hotel. Sejumlah pria bersarung dan mengenakan kemeja berlogo NU terlihat lalu-lalang. Sebagian membawa koper ketika meninggalkan hotel.
Muhammad Lukman Edi, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal yang masuk dalam tim pemenangan Kikin, membantah pengasuh Tebuireng itu menggunakan Asrama Haji dalam rangkaian muktamar. “Itu yang memesan Saifullah Yusuf,” kata Lukman.
Menurut Lukman, Kikin tidak keberatan dengan model pemilihan apa pun, baik melalui AHWA maupun one delegation one vote. “Tidak ada masalah,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa periode 2005-2008 itu.