Muktamar PPP Ricuh, Ketua Umum Terpilih Malah Disoraki “Turun”

Muktamar PPP Ricuh, Ketua Umum Terpilih Malah Disoraki “Turun”

PPP ricuh di Ancol, Muktamar PPP 2025 chaos, Mardiono disoraki turun, PPP gagal ke Senayan 2024, konflik internal PPP terbaru-Foto: IG @noesantara_news-

JAKARTA, Semaraknews.co.id – Muktamar Partai Persatuan Pembangunan atau PPP ke-10 di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu 28 September 2025, berakhir ricuh dan buru-buru ditutup. Acara yang semula dijadwalkan tiga hari dipotong pendek setelah Muhammad Mardiono ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua umum.

Mardiono menyebut ada keadaan darurat yang membuat muktamar dipercepat. “Proses bisa dipercepat dan kami anggap sebagai penyelamatan,” kata Mardiono di lokasi.

Mardiono yang juga Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan sudah curiga sejak awal muktamar bakal ribut. Dugaan itu terbukti ketika ia berpidato sambutan sebagai pelaksana tugas ketua umum. Belum selesai bicara, dirinya sudah dihujani sorakan.

Bahkan selepas acara pembukaan, ketika Mardiono diwawancarai media, teriakan masih bersahut-sahutan. Sorakannya tidak main-main, ada yang berteriak “Ketua baru, ketua baru” sambil mendorong suasana makin panas.

BACA JUGA:Netanyahu Soroti Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB, Menlu RI Respon Begini

Panitia berusaha menenangkan ruangan, tapi gagal. Sorakan makin keras saat Mardiono meninggalkan panggung. Dalam pidatonya, ia sempat meminta maaf dan menyinggung buruknya performa PPP di Pemilu 2024.

Partai berlogo Ka’bah itu hanya meraih 5,87 juta suara atau 3,87 persen, tidak lolos ambang batas parlemen. Itu kali pertama sejak berdiri tahun 1973 PPP gagal melenggang ke Senayan. Mardiono mengakui konflik internal ikut jadi penyebab kegagalan, bukan hanya faktor eksternal.

Sesi wawancara media pun tidak berjalan tenang. Kubu lawan menyoraki dengan teriakan “Perubahan, perubahan”. Adu mulut, dorong-dorongan, bahkan lempar botol dan kursi sempat terjadi. Pendukung Mardiono membalas sorakan hingga suasana makin ricuh. Petugas keamanan turun tangan melerai, sementara partai makin tampak terbelah menjadi dua kubu saling tuding.

Wakil Ketua Umum PPP Rusli Effendi sempat mengimbau agar peserta muktamar menahan diri. 

BACA JUGA:Jadwal Puasa dan Lebaran Idul Fitri 2026: Muhammadiyah, NU, Pemerintah, dan Cuti Bersama

“Perbedaan pendapat pasti ada dalam pemilihan ketua umum. Namun, bedanya ada yang mengedepankan kesantunan dan ada yang tidak,” ujarnya. Meski begitu, Mardiono menduga ada pihak yang sengaja bikin gaduh. Ia mengklaim 80 persen pemilik suara setuju muktamar dipercepat. “Semuanya menyetujui untuk kita mengambil langkah-langkah cepat agar tidak terjadi keributan yang berkepanjangan,” katanya.

Mardiono sendiri bukan orang baru. Ia sudah menggantikan Suharso Monoarfa sejak 2022 lewat Mukernas setelah Suharso dicopot akibat pidato soal amplop kiai. Dalam muktamar kali ini, namanya bersaing dengan mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan eks Dubes RI untuk Azerbaijan Husnan Bey Fananie.

Sekjen PPP Muhammad Arwani Thomafi sebelumnya menegaskan DPP tidak ikut campur dalam pemilihan, meski dukungan untuk masing-masing calon dianggap wajar.

Pada akhirnya, drama di Ancol menunjukkan bahwa partai berlambang Ka’bah ini masih diselimuti konflik internal. Alih-alih jadi ajang konsolidasi, muktamar justru dipenuhi teriakan, dorongan, dan kursi melayang.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya